HADIS NABI SAW

Hadis Nabi SAW;
Akan keluar dari sulbi ini, seorang pemuda yang akan memenuhi dunia dengan keadilan (Imam Mahdi). Bilamana kamu yakin perkara demikian maka carilah Pemuda dari Bani Tamim, dia datang dari sebelah Timur dan dia adalah Pemegang Panji Hitam Al Mahdi – (Dari kitab Al Hawi lil Fatawa oleh Imam Sayuti)

Selasa, 1 Julai 2014

CINTAI AHLULBAIT DAN CINTAI SAHABAT NABI SAW

CINTAI AHLUL BAIT DAN CINTAI SAHABAT NABI SAW

PUJIAN IMAM AHLUL BAIT TERHADAP SAHABAT NABI SAW
Keupayaan Menjaga Dan Memelihara Kemuliaan Dzat Ahlul Bait Nabi Saw

1. DEFINISI SAHABAT.
Sahabat adalah sebutan bagi siapa saja yang pernah bertemu atau melihat Nabi Muhammad saw dan memeluk islam. Para ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan makna sahabat. Ada yang berpendapat bahwa orang yang hanya sekali melihat Rasulullah saw adalah Sahabat Rasulullah saw. Maka kaum muslimin yang berada di Madinah dan Mekkah setelah penaklukan adalah Sahabat, atau baru lahir pada Haji Widak Akhir Zulkaidah sebelum Nabi saw sampai ke Mekkah pada tahun 10 Hijriyah dan 3 bulan sebelum wafat Nabi saw, atau orang yang hidup pada masa Nabi saw dan beriman tetapi tidak berjumpa dengannya, atau menjumpainya setelah wafat Nabi saw dengan hanya melihat jenazahnya, bisa juga dikatakan sebagai Sahabat Nabi saw. Batasan yang ketat berpendapat bahwa seseorang bisa dikatakan sebagai Sahabat Nabi saw bila ia lama bergaul dengannya.

Al-bukhari dalam kitab shahih-nya memberikan pengertian bahwa yang dinamakan sahabat nabi adalah orang muslim yang hidup bersama nabi atau pernah melihatnya. Menurut zain al-iraqi mengatakan bahwa sahabat adalah yang bertemu rasulullah dalam keadaan muslim dan meninggal dalam islam. Said bin musayyab berpendapat bahwa sahabat adalah orang yang pernah tinggal dan hidup bersama nabi saw selama satu tahun penuh atau setidak-tidaknya pernah ikut perang bersama nabi saw. Ibnu hajar al-haitsami mengatakan bahwa sahabat adalah orang yang bertemu dengan nabi saw dalam keadaan beriman kepada beliau saw dan (sampai) meninggal (ia berada) dalam islam, baik orang itu meriwayatkan hadits atau tidak dari nabi saw, atau orang yang tidak pernah melihat beliau saw karena buta. Ahmad bin hanbal mengatakan sahabat rasul adalah orang yang pernah hidup bersama beliau, sebulan atau sehari atau sesaat atau hanya dengan melihatnya.

Menurut mayoritas ulama hadits, seseorang dapat dikatakan sahabat apabila ia tetap dalam keadaan beriman sampai ia wafat bahkan sekalipun seseorang yang telah mendapat gelar murtad, tetapi ia kembali beriman, ia masih tetap dikatakan sahabat. Ulama lain berpendapat bahwa seseorang dikatakan sahabat jika ia bergaul lama dengan nabi saw.

Abu al-husain muslim bin hajjaj al-qusyairi al-naisaburi atau imam muslim, seorang ahli hadits terkenal, mengelompokkan sahabat-sahabat rasulullah saw k e dalam dua belas peringkat berdasarkan peristiwa yang mereka alami atau saksikan. Peringkat pertama adalah al-sabiqun al-awwalun (mereka yang pertama sekali masuk islam), dimulai dari abubakar, umar, usman, ali bin abi thalib dan seterusnya. Peringkat kedua, mereka yang tergabung dalam dar al-nadwah (gedung pertemuan bagi orang-orang quraisy pada masa sebelum dan awal islam), yang ketika umar menyatakan keislamannya mereka membawanya menghadap rasulullah saw, lalu memba'iatnya. Peringkat ketiga, mereka yang ikut hijrah ke habasyah. Peringkat keempat, mereka yang memba'iat nabi saw di aqabah pertama. Peringkat kelima, mereka yang memba'iat nabi saw di aqabah kedua. Peringkat keenam, orang-orang muhajirin yang pertama menemui nabi saw ketika beliau tiba di quba sebelum memasuki kota madinah pada waktu hijrah. Peringkat ketujuh, mereka yang ikut serta dalam perang badar. Peringkat kedelapan, mereka yang berhijrah ke suatu tempat antara badar dan hudaibiyah. Peringkat kesembilan, mereka yang tergabung dalam kelompok ba'iat al-ridwan (ba'iat yang dilakukan kaum muslimin ketika terjadi gazwah/perjanjian hudaibiyah). Peringkat kesepuluh, mereka yang ikut hijrah antara al-hudaibiyah dan al-fatah (penaklukkan mekkah). Peringkat kesebelas, berdasarkan urutan masuk islam. Peringkat kedua belas, para remaja dan anak-anak yang sempat melihat rasulullah saw pada waktu penaklukkan kota mekkah dan haji wada' serta di tempat-tempat lain. Jumlah orang yang mendapat predikat sahabat pada waktu nabi saw wafat sekitar 144.000 orang, yakni para pengikut nabi saw dan secara nyata melihatnya lalu memeluk islam.

Tetapi sebagai panduan untuk mengetahui jumlah Sahabat Nabi SAW ialah sebanyak bilangan Para Nabi berjumlah 124 000 orang. Dan pecahan keutamaan Sahabat Nabi SAW juga berpandu atas keutamaan yang diletakkan oleh Allah SWT. Iaitu 313 orang Nabi membawa 313 Sahabat Ahli Badar, 25 Rasul membawa keutamaan Sahabat yang Ahli dalam Hal Ehwal Agama Islam. 5 Rasul Ulul Azmi membawa kepada keutamaan Sahabat Yang Utama iaitu Abu Bakar, Umar, Usman, Ali dan Bilal. Yang paling hampir kedudukan dengan Rasulullah SAW ialah Sayedina Ali RA. 

Tentang penilaian terhadap para sahabat, juga terdapat beberapa pendapat. Pendapat jumhur mengatakan bahwa para sahabat nabi saw adalah manusia-manusia arif, mujtahid, yang integriti kepribadiannya dijamin oleh alquran dan sunnah. Mereka menurut al-razi, adalah sahabat-sahabat rasulullah saw yang menyaksikan wahyu, mengetahui ta'wil dan tafsir, memahami semua ajaran yang disampaikan allah swt kepada rasul-nya dan yang disunnahkan dan disyariatkan nabi saw. Allah swt telah menjadikan mereka teladan bagi umat. Pendapat ini didukung oleh ibnu hajar al-haitsami, ibnu hazm, al-ghazali dan lainnya. Menurut pendapat muktazilah, semua sahabat 'udul (adil) kecuali mereka yang terlibat dalam perang siffin (perang antara ali dan muawiyah). Menurut pendapat sebagian kecil ulama, semua sahabat, seperti semua periwayatan yang lain, harus diuji 'adalah-nya. Para sahabat itu tidak berbeda dari manusia lainnya dalam hal ketidakmustahilannya berbuat salah dan alpa. Ke-'adalah-an mereka bukan secara umum seperti kaidah pendapat jumhur yang mengatakan: al-sahabat kulluhum 'udul (sahabat semuanya adil), tetapi secara perorangan, karena tingkat pengetahuan, penguasaan terhadap agama, dan kemampuan mereka tidak sama. Jadi, bila ada sahabat yang meriwayatkan hadits dari rasulullah saw, maka 'adalah-nya harus diteliti untuk menerima atau tidak hadits tersebut. Sebab, bila pendapat jumhur diterima, maka semua hadis sahih.

Al-allamah al-habib ahmad bin hasan al-attas dalam kitabnya yang berjudul tanwir al-aglas berkata: 'para sahabat adalah manusia utama setelah para nabi, dan sahabat yang paling utama adalah khalifah yang empat, yaitu abubakar, umar, usman dan ali bin abi thalib. Semua mereka 'udul dan bersih dari kesalahan. Mereka dibagi menjadi tiga, muhajirin, anshor dan sahabat yang beriman kepada rasul saw dan sahabatnya.

Walaupun definisi tentang sahabat dan penilaian terhadap mereka diperdebatkan oleh para ulama, namun mereka menduduki posisi penting dalam pewarisan ajaran islam dan penyebaran islam. Sebab, mereka adalah generasi pertama umat islam yang memelihara hadits sebagai sumber kedua ajaran islam setelah nabi saw wafat. Mereka sampaikan kepada generasi kedua (tabi'in), dan tabi'in kepada tabi'at al-tabi'in (generasi ketiga), hingga sampai kepada kita. Para imam ahlul bait menerima semua yang disebutkan dalam kitab alquran dan sunnah nabi tentang keutamaan-keutamaan mereka, dan meyakini bahwa mereka adalah generasi terbaik, seperti yang disabdakan rasulullah saw:

"sebaik-baiknya kalian adalah generasiku, kemudian yang datang setelah itu, kemudian yang datang setelah itu, kemudian yang datang setelah itu."

selain itu, mereka berpencar ke seluruh penjuru negri, mereka memasuki kota-kota besar yang sudah takluk di bawah pemerintahan islam. Di antara mereka ada yang menjadi khalifah, gubernur, hakim atau jabatn-jabatan penting lainnya. Di situlah mereka semua menyebarkan ajaran rasulullah saw. Mereka mengeluarkan fatwa-fatwa untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dengan penuh keikhlasan dan kebersihan hati untuk mendekatkan diri kepada allah saw. Itulah kedudukan para sahabat nabi saw yang pasti dan dan tak dapat dipungkiri.

2. PERINTAH MENCINTAI SAHABAT NABI SAW.
Ketahuilah, bahwa kecintaan terhadap ahlul bait tidak mempunyai arti, jika tidak terdapat kecintaan terhadap para sahabat nabi saw. Sesungguhnya para sahabat nabi saw, mereka telah menemani nabi saw dalam segala keadaan, baik dalam keadaan sukacita maupun dalam keadaan duka cita. Mereka rela untuk menyerahkan nyawa dan semua hartanya untuk mendukung perjuangan rasulullah saw. Mereka lebih menyintai rasulullah saw dan keluarga dibandingkan kecintaan mereka terhadap keluarganya sendiri.

Berkata fakhrurozi, allah swt berfirman:

إلاّ المودّة فى القربى , ayat tersebut tidak saja pujian allah swt kepada keluarga rasulullah saw, tetapi juga pujian kepada para sahabatnya, disebabkan allah swt berfirman dalam ayat yang lain: السّابقون السّابقون أولئك المقرّبون , sesungguhnya orang-orang yang taat kepada allah swt (para sahabat) mempunyai tempat yang dekat di sisi allah swt. Sebagaimana telah diketahui bahwa keluarga rasulullah saw mempunyai tempat yang dekat di sisi allah swt, begitu pula para sahabat beliau juga mempunyai tempat yang dekat di sisi allah swt.

Walhasil, para imam ahlul bait telah bersepakat bahwa kewajiban mencintai keluarga rasul saw harus bersamaan dengan sikap mencintai para sahabatnya, sebagaimana rasulullah saw telah bersabda: مثل أهل بيتى كمثل سفينة نوح من ركب فيها نجا
"perumpamaan ahlul baitku bagi kalian seperti bahtera nuh as, barangsiapa yang menaikinya (mengikutinya) akan selamat."
أصحابى كالنجوم بأيّهم اقتديتم اهتديتم
"sahabatku ibarat bintang (yang memberi petunjuk), barang siapa di antara kalian yang mengikuti mereka, niscaya kalian akan mendapatkan petunjuk."

jika seorang mengarungi lautan, ia memerlukan petunjuk untuk sampai dengan selamat di tempat tujuan. Begitu pula saat ini, semua manusia sedang mengarungi lautan dunia yang memerlukan petunjuk agar selamat ke negeri akhirat. Dalam mengarungi lautan, seorang pelaut memerlukan dua petunjuk yaitu perahu dan bintang. Begitu pula manusia, jika ingin selamat dalam mengarungi lautan dunia agar selamat ke negeri akhirat harus memerlukan dua petunjuk yaitu perahu nuh as (ahlul bait) dan bintang (para sahabat).

Secara umum keutamaan sahabat terdapat dalam alquran dan hadist rasulullah saw. Rasulullah saw bersabda:
- peliharalah kecintaan terhadapku dengan kecintaan kepada sahabat dan sihr-ku. Barang siapa yang memelihara kecintaan terhadapku, maka allah swt akan memeliharanya dalam dunia dan akhirat. Dan bagi orang-orang yang tidak memelihara kecintaan kepada mereka, maka allah swt akan mencampakkannya.
- muliakan sahabatku sesungguhnya mereka orang-orang yang terbaik di antara kamu.
- janganlah kalian mencela seorangpun dari sahabatku. Demi allah yang jiwaku berada dalam kekuasaannya, jika saja seorang di antara kalian menginfaqkan emasnya sebesar gunung uhud, niscaya tidak akan sama walau sedikitpun atau setengahnya.
- sesungguhnya allah swt telah memilihku dan memilihkan untukku sahabat, dan menjadikan untukku di antara mereka seorang wazir, penolong dan sihr. Barang siapa yang mencela mereka, maka laknat allah swt, para malaikat dan semua manusia kepadanya, dan allah swt tidak akan menerima amalnya baik yang wajib dan yang sunnah.
- allah, allah selalu menaungi sahabatku. Janganlah kalian berbuat sesuatu yang buruk kepada mereka setelah aku tiada. Barang siapa yang mencintai mereka berarti mencintaiku, barang siapa yang membenci mereka berarti membenciku. Siapa yang menyakiti mereka berarti menyakiti aku, siapa yang menyakiti aku berarti menyakiti allah swt.
- sesungguhnya manusia itu banyak, tetapi sahabatku sedikit. Janganlah kalian mencela mereka. Allah swt telah melaknat orang-orang yang mencela mereka.
- sesungguhnya seberat-beratnya siksa allah swt terhadap hambanya di hari kiamat, bagi mereka yang suka mencaci maki para nabi kemudian sahabatku dan kaum muslimin.
- jika allah swt menghendaki kebaikan kepada umatnya, niscaya akan diberikan rasa cinta kepada sahabatku di dalam hatinya.
- jika kalian melihat suatu kaum mencela sahabatku, maka katakanlah: laknat allah swt atas kejahatan kalian!
- seburuk-buruknya umatku adalah mereka yang mencaci maki sahabatku.
- aku memohon kepada allah swt terhadap sahabatku setelah aku tiada. Maka allah swt memberitakan kepadaku: ya muhammad, sesungguhnya sahabatmu mempunyai kedudukan seperti bintang di langit, yang satu menjadi bagian yang lainnya.
- syafa'atku akan aku berikan secara umum, kecuali kepada mereka yang mencaci maki sahabatku.
- tidak seorangpun dari sahabatku yang wafat di bumi, niscaya akan dibangkitkan sebagai pemimpin dan cahaya di hari kiamat nanti.
- jika dibicarakan di antara kamu (tentang masalah yang diperselisihkan) sahabatku, maka diamlah kamu.
- akan datang suatu kaum yang mencela dan mencaci maki sahabat. Jika kalian bertemu, janganlah kalian duduk, minum, makan dan menikah dengan mereka.
- siapa yang mencela para nabi maka perangilah, dan siapa yang mencela sahabatku maka cambuklah.
- kedudukan mereka (sahabat) sesaat lebih baik dibandingkan amal perbuatan kalian sepanjang hidup.
- siapa yang menjaga (perkataan dan sikap dari mencaci maki) sahabatku, maka akan berkumpul bersamaku di telaga haudh. Dan siapa yang tidak menjaga (perkataan dan sikap dari mencaci maki) sahabatku, tidak akan berkumpul denganku di telaha haudh, bahkan sama sekali tidak akan melihatku.
- perumpamaan sahabatku seperti garam terhadap makanan, tidak akan terasa lezat makanan kecuali dengan garam.
- bintang merupakan penyelamat bagi langit, jika bintang lenyap maka akan datang apa yang dijanjikan kepada langit (gelap gulita). Sahabatku adalah penyelamat bagi umatku, jika sahabatku lenyap maka akan datang apa yang dijanjikan kepada umatku (kesesatan).
- siapa yang berkata dengan perkataan yang baik mengenai sahabatku sesungguhnya dia telah terbebas dari sifat munafik, dan siapa yang berkata dengan perkataan yang jelek mengenai sahabatku sesungguhnya dia telah menyalahi sunnahku, dan akan dimasukkan ke dalam neraka yang merupakan seburuk-buruk tempat.
- siapa yang mencintai sahabat-sahabatku, bermaula kepada mereka dan memintakan ampun untuk mereka, maka allah swt akan memasukkannya bersama para sahabat ke dalam surga.

Berkata ibnu hajar al-haitsami dalam kitab asna al-matholib fi shilat al-aqorib, bahwa wajib bagi setiap muslim untuk bersikap baik dan ridho terhadap para sahabat dan ahlul baitnya, mengenal keutamaan dan hak-hak mereka, menahan dari mengeluarkan pendapat negatif terhadap peristiwa yang terjadi di antara mereka.

Al-hafidz al-suyuthi dalam risalahnya ilqomu al-hajar liman zaka saba abubakar wa umar, bahwa jika seorang menganggap halal mencela sahabat maka ia kafir karenanya. Jika ia tidak menganggap halal maka ia fasik karenanya.

Qadhi iyadh dalam kitab al-syifa berkata: haram hukumnya bagi orang yang mencela dan mencaci maki sahabat dan pelakunya dilaknat.

Ibnu hanbal berkata: 'apabila kamu melihat seseorang menyebut-nyebut sahabat rasulullah saw dengan kejelekan, maka curigailah dia menumbangkan islam.'

imam malik bin anas, berkata: 'barang siapa mencela nabi saw maka perangilah mereka, dan siapa yang mencaci maki sahabat beliau saw maka berilah hukuman yang membuat jera.'

ibnu taimiyah berkata: 'barang siapa menganggap murtad sahabat sepeninggalan nabi saw kecuali beberapa orang saja atau dikira mereka semuanya fasik, maka tidak ada keraguan mengenai kekafiran orang itu.'

abu zur'ah al-razi berkata: 'apabila kamu melihat seseorang mencela sahabat nabi saw, maka ketahuilah bahwa dia itu zindik.'

ibnu abidin berkata: 'barang siapa mencaci maki abubakar dan umar atau memfitnah keduanya, maka kafirlah ia dan taubatnya tak diterima.'

3. SIKAP IMAM AHLUL BAIT TERHADAP SAHABAT.
Berkenaan dengan para sahabat nabi, ahlu sunnah mempunyai hati yang lurus dan bersih dengan mengatakan bahwa persahabatan dengan nabi saw adalah suatu kemuliaan yang tidak ada bandingannya. Mereka menjaga baik-baik wasiat nabi saw tentang para sahabat: 'janganlah kalian mencaci-maki para sahabatku', oleh karena itu mereka tidak pernah mencaci-maki seorang pun dari kaum muhajirin dan anshor. Begitu pula dengan sikap para imam ahlul bait terhadap sahabat-sahabat rasulullah saw. Mereka tidak pernah mencaci maki para sahabat, bahkan mereka banyak memuji dan mengakui keutamaan para sahabat rasulullah saw. Imam ali bin abi thalib berkata:

"aku telah melihat para sahabat muhammad saw, tak satupun ada orang yang kulihat yang menyamai mereka. Siang hari mereka sujud dan berdiri menghadap allah swt. Mereka pergunakan malam untuk shalat dan tidur secara bergantian. Mereka bagaikan di atas bara api karena mengingat hari akhir, seolah-olah pada mata mereka ada bulu kambing karena banyak sujud. Apabila disebut nama allah, bercucuran air matanya, sehingga membasahi dadanya. Hati mereka selamanya goncang, seperti goncangnya pohon diterpa angin kencang karena takut pada siksa allah dan mengharap pahala-nya".

Imam ja'far al-shiddiq meriwayatkan bahwa seorang pria dari suku quraisy datang kepada ali bin abi thalib di masa ia menjadi khalifah. Orang itu berkata kepada imam ali bin abi thalib:

"wahai amirul mukminin! Aku pernah mendengar engkau berkata dalam suatu pidato: wahai tuhan kami, jadikanlah kami hamba-mu yang saleh sebagaimana engkau telah jadikan khulafaur rasyidin hamba-hamba-mu yang saleh. Siapakah gerangan mereka itu? Sambil air matanya berlinang, ia biarkan air matanya menetes. Lalu imam ali menjawab: mereka adalah orang-orang yang kucintai. Mereka paman-pamanmu. Abubakar dan umar adalah sebagai imam hidayah, syekh islam dan para penuntun setelah rasulullah saw. Barangsiapa yang mengambil tauladan dari mereka akan terpelihara. Barangsiapa mencontoh prilaku mereka mendapat prtunjuk jalan yang lurus. Barangsiapa berpegang teguh pada jalan mereka akan masuk golongan (hizb) allah swt. Dan golongan allah itu adalah orang-orang yang selamat".

Riwayat lain menceritakan bahwa seorang lelaki datang menghadap imam ali seraya berkata: wahai amirul mukminin! Pada saat aku melewati segolongan manusia terdapat di antara mereka yang membicarakan hal-hal yang tidak pantas mengenai abubakar dan umar. Sejenak kemudian, ali pun naik mimbar mengucapkan khutbah dan ia berkata:

"demi dzat yang menciptakan biji-bijian dan membebaskan jiwa! Sebenarnya mereka itu (abubakar dan umar) sungguh mukmin yang luhur. Tidaklah ada siapapun manusia yang benci kepada mereka dan melawan mereka, melainkan orang itu jahat dan durhaka. Mencintai mereka berarti dekat kepada allah swt. Dan membenci mereka berarti durhaka kepada allah swt. Mengapakah mereka mengunjing saudara-saudara rasulullah, pembantu dan para sahabat beliau? Mereka adalah kepala-kepala quraisy dan tokoh-tokoh islam. Aku tidak akan melepaskan diri dari orang yang mengunjingkan abubakar dan umar, bahkan mereka akan mendapat ganjaran balasan yang setimpal.

Imam ali bin abi thalib pernah berkata: "maukah kalian kuberitahukan siapa orang yang terbaik bagi umat ini setelah nabi muhammad saw? Lalu beliaupun berkata: abubakar setelah itu umar".

Imam ali bin abi thalib pernah berkata tentang usman: "sesungguhnya orang-orang mencercanya, sedang aku dari golongan muhajirin, banyak memohon keridhoannya".

Ketika imam hasan bin ali ditanya, apakah mencintai abubakar dan umar sunnah hukumnya? Beliau menjawab: "bukanlah semata-mata sunnah, tetapi wajib hukumnya".

Telah datang seorang laki-laki kepada imam ali zainal abidin dan bertanya: bagaimanakah kedudukan abubakar dan umar di sisi rasulullah saw? Beliau menjawab: "kedudukan mereka sekarang ini sebagai pedamping rasulullah saw di pembaringannya".

Dalam kitab hilyah al-aulia, telah diriwayatkan oleh abu nuaim, imam ali bin husein bin ali bin abi thalib berkata: telah datang kepadaku beberapa orang dari iraq dan mereka bercerita tentang abubakar, umar dan usman. Setelah mereka selesai bercerita berkata imam ali bin husein kepada mereka: maukah kalian memberitahu aku, apakah kalian termasuk kaum muhajirin yang terdahulu, yang hijrah dari tempat mereka dan membelanjakan hartanya demi untuk mendapatkan keutamaan dan keridhoan allah swt, dimana mereka membantu allah dan rasul-nya, dan mereka termasuk orang-orang yang benar? (al-hasyr:8)

ahlul iraq: tidak.
Ali bin husein: apakah kalian termasuk orang-orang yang telah menempati kota madinah (anshor) dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (muhajirin), mereka mencintai orang-orang yang berhijrah kepada mereka, dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu)? (al-hasyr: 9)

ahlul iraq: tidak.
Ali bin husein: jika kalian tidak termasuk ke dalam dua golongan tersebut, maka saksikanlah bahwa kalian tidaklah termasuk dalam firman allah: dan orang-orang yang datang sesudah mereka (muhajirin dan anshor) dan berdoa: "wahai tuhan kami, beri ampun kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu daripada kami dan janganlah engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman … (al-hasyr: 10).

Keluarlah kalian!
Diriwayatkan dari ali bin husein bin ali bin abi thalib, beliau berkata: "wahai ahlul iraq, cintailah kami sebagaimana kalian mencintai islam. Demi allah, tidak akan bergeser kecintaan kalian kepada kami hingga kalian mencampuradukan kecintaan kalian kepada kami dan membenci abubakar dan umar serta mencaci maki mereka berdua".

Imam ali zainal abidin berdoa untuk para sahabat rasulullah saw yang telah membantu beliau saw dalam perjuangan menegakkan agama islam sebagai berikut:

"ya allah, untuk sahabat-sahabat muhammad saw, khususnya mereka yang terjalin persahabatan dengan baik bersama beliau saw dan mereka yang telah berjasa mendukungnya, mereka yang bahu-membahu bersama rasulullah saw dan telah berusaha secepatnya dalam mendukung dan segera dalam menerima ajakan rasul saw kepada mereka, dari hujjah risalah-nya, mereka yang sudi dan tahan berpisah dari anak-anak dan istrinya demi menegakkan dan menyebarkan kalimat haq, mereka yang juga tidak segan-segan memerangi anak-anak dan ayah mereka sendiri untuk mengukuhkan nubuwahnya, mereka adalah orang-orang yang dikucilkan oleh suku dan famili mereka hanya karena bergantung pada tali beliau, muhammad saw, dan terputuslah hubungan kerabat yang sebelumnya terjalin erat sesama mereka dan mengajaknya menjadi anggota kerabat beliau.

Ya allah, betapa banyak yang telah mereka tinggalkan serta mereka berikan kepada-mu, dengan segala kerelaan, balaslah hijrah mereka dari rumah tangganya menuju rumah-mu. Mereka tinggalkan kehidupan yang makmur dan sentosa, lalu memilih kehidupan yang sederhana dan penuh tantangan."

imam zaid bin ali zainal abidin, berkata: "memutuskan hubungan dengan abubakar dan umar tidak lain arti melainkan memutuskan hubungan dengan ali bin abi thalib". Beliau berkata pula: 'barangsiapa yang mencela abubakar dan umar, maka allah swt, para malaikat dan semua manusia akan melaknatnya'.

Begitu juga sikap ja'far al-shadiq terhadap para sahabat, seperti yang diriwayatkan dari salim ibnu abi hafsah berkata: ketika aku mengunjungi imam ja'far al-shadiq ibnu muhammad yang sedang sakit, maka beliau berkata: "ya allah sesungguhnya aku mencintai abu bakar dan umar, dan akupun bermaula kepada keduanya. Ya allah, jika perasaan yang ada dalam diriku berbeda dengan apa yang aku ucapkan, semoga aku tidak mendapatkan syafa'at dari muhammad saw".

Kemudian beliau berkata: "wahai salim, pantaskah jika ada seseorang yang mencaci maki kakeknya, sesungguhnya abu bakar ra adalah kakekku, sesungguhnya aku tidak mengharap syafa'at dari seorangpun , kecuali aku mengharap syafa'at yang sepertinya dari abu bakar." bahkan ia pernah berkata: "aku berlepas tangan dari orang-orang yang mengatakan sesuatu sesudah nabi saw tentang abu bakar dan umar kecuali yang baik."

imam ja'far al-shadiq ditanya tentang abubakar dan umar, beliau menjawab: 'aku berlepas diri terhadap orang-orang yang berlepas diri dari keduanya'. Kemudian beliau ditanya lagi, apakah anda bersikap taqiyyah? Imam ja'far al-shadiq menjawab: 'jika aku bersikap seperti itu, maka aku akan berlepas diri dari islam dan aku tidak akan mengharap syafaat kakekku muhammad saw'. Selanjutnya beliau berkata: 'allah swt berlepas diri terhadap orang-orang yang berlepas dari abubakar dan umar'.

Begitu pula sikap ayah al-shaddiq, imam muhammad al-baqir. Beliau sangat cinta kepada khalifah abu bakar al-shiddiq, beliau sangat memujinya dan berkata: "siapapun yang tidak mengucapkan al-shiddiq di belakang nama abu bakar, maka allah tidak akan membenarkan ucapannya". Selanjutnya beliau berkata:

"sesungguhnya aku berlepas diri dari orang yang membenci abu bakar dan umar, andaikata aku berkuasa, pasti aku akan mendekatkan diri kepada allah swt dengan menumpahkan darah orang yang membenci abu bakar dan umar. Demi allah, sesungguhnya aku mencintai keduanya dan akupun senantiasa memohonkan ampun bagi keduanya, tidak seorangpun dari ahlil baitku kecuali ia akan mencintai keduanya."

ibnu fudhail meriwayatkan dari salim ibnu hafsah, berkata: aku pernah bertanya kepada abu ja'far dan puteranya tentang abu bakar dan umar, maka keduanya menjawab: "wahai salim, keduanya adalah pemimpin yang adil, cintailah keduanya dan berlepas diri dari siapa saja yang memusuhi keduanya, sesungguhnya keduanya di hadapanku adalah petunjuk yang harus diikuti."

seorang wanita menemui imam ja'far al-shaddiq, lalu bertanya kepadanya tentang abubakar dan umar, beliau menjawab: "jadikanlah keduanya sebagai pemimpinmu". Wanita itu berkata: bila berjumpa dengan tuhanku, aku akan mengatakan kepadanya, engkau yang memerintahkanku menjadikannya sebagai pemimpin. Imam ja'far menjawab: "ya".

Muhammad al-bagir bin ali bin husein bin ali bin abi thalib, berkata: barang siapa yang tidak mengenal keutamaan abubakar dan umar, maka ia tidak mengenal sunnah. Ketika beliau ditanya tentang suatu kaum yang mencaci maki abubakar dan umar, beliau menjawab: "sesunguhnya kaum itu telah keluar dari ajaran islam, maka barangsiapa yang ragu terhadap keduanya, maka ia ragu terhadap sunnah nabinya, barangsiapa yang membencinya maka ia termasuk dari kaum munafik".

Diriwayatkan oleh mufadhal bin umar dari ayahnya dari kakeknya, berkata: imam ja'far al-shadiq ditanya tentang sahabat, beliau menjawab: 'sesungguhnya abubakar al-shiddiq hatinya dipenuhi oleh musyahadah al-rububiyah, beliau menyaksikan tidakada tuhan selain allah, sehingga ia banyak berdzikir لا إله إلا الله, sedangkan umar selalu menganggap kecil sesuatu selain allah swt dan tidak tunduk kecuali kepada allah swt, sehingga ia banyak berdzikir الله اكبر , sedangkan usman melihat segala sesuatu selain allah swt mempunyai sebab akibat dan beliau selalu mensucikan allah swt, sehingga ia banyak berdzikir سبحانالله , sedangkan ali bin abi thalib selalu melihat keberadaan alam semesta adalah ciptaan allah swt dan semuanya akan kembali kepada allah swt, sehingga ia banyak berdzikir الحمدلله.

Dari sangat cintanya imam ali kepada ketiga khulafaur rasyidin, beliau menamakan anak-anaknya dengan nama mereka, yaitu: abubakar bin ali bin abi thalib, umar bin ali bin abi thalib dan usman bin ali bin abi thalib, dan beliau juga mengawinkan puterinya ummu kulsum dengan umar bin khottob. Al-hasan dan al-husain juga menamakan anak-anak mereka dengan abubakar dan umar, semua itu untuk dilakukan demi rasa cintanya kepada kedua sahabat rasulullah saw.

Imam musa bin ja'far meriwayatkan dari ayahnya , ketika beliau ditanya tentang abubakar dan umar: "abubakar adalah kakekku dan umar adalah suami nenekku (suami ummu kulsum bin ali bin abi thalib), apakah ada orang yang membenci kakek dan suami neneknya?

Imam musa bin ja'far, juga memberikan nama salah satu anak lelakinya dengan abubakar, anak perempuannya juga dinamakan aisyah, seperti juga kakeknya ali bin husein bin ali bin abi thalib menamakan putrinya dengan aisyah. Begitu pula dengan imam ali bin muhammad al-hadi mempunyai anak perempuan yang dinamakan dengan aisyah.

Al-daruqutni meriwayatkan dari muhammad bin abdullah bin hasan bin hasan bin ali bin abi thalib yang bergelar al-nafsu al-zakiyah, ketika ditanya tentang abubakar dan umar, beliau menjawab: "mereka berdua lebih utama dari ali bin abi thalib".

Imam abdullah al-mahdi bin hasan bin hasan bin ali bin abi thalib, berkata: "allah swt tidak akan menerima taubat seseorang hamba yang berlepas diri dari abubakar dan umar".

Hasan bin ali bin abdullah bin hasan bin ali bin abi thalib pernah ditanya tentang abubakar dan umar, beliau menjawab: 'keduanya adalah orang-orang yang utama dan aku selalu memintakan ampun untuk keduanya'. Kemudian beliau ditanya, apakah ini taqiyyah? Beliau menjawab: aku tidak akan mendapat syafaat muhammad saw, jika apa yang aku katakan berlainan dengan hatiku'.

Ibnu syihab dalam kitabnya raspah al-shodi mengatakan: 'wajib atas semua manusia dan ahlul bait al-syarif khususnya, menghormati dan mengagungkan para sahabat rasulullah saw dan mencintai semuanya, disebabkan mereka adalah nujum al-hidayah dan rijal al-riwayah wa al-dirayah, mereka manusia yang paling utama setelah para nabi, dan allah telah memuji atas mereka di dalam kitab-nya dan telah diceritakan dalam hadits-hadits shahih.'

4. KAUM RAFIDHAH DAN SAHABAT.
Dari segi bahasa rafidhah mempunyai beberapa makna diantaranya menolak, yang murtad keluar dari agamanya atau golongan yang meninggalkan pimpinannya dalam pertempuran (deserter). Di sebut kaum rafidhah karena kaum tersebut menolak keutamaan abubakar dan umar. Mereka berpendapat bahwa ali bin abi thalib lebih utama dari abubakar dan umar.

Bermula sebutan rafidhah adalah sikap memihak sebagian kelompok kepada ali bin abi thalib dan lebih mengutamakannya dari pada usman. Dalam kitab taqwiyah al-iman, sayid muhammad bin aqil bin yahya menulis bahwa syaikh abdul qadir jailani berkata: 'rafidhah adalah suatu kelompok yang berpendapat bahwa ali bin abi thalib lebih utama dari usman.' syaikh ibnu taimiyah menjelaskan, telah mutawatir sebuah riwayat dari ali bin abi thalib bahwa ia berkata: 'sebaik-baiknya umat sesudah nabinya adalah abubakar kemudian umar. Dan ini pun disepakati oleh kalangan syiah generasi terdahulu, semua menganggap utama abubakar dan umar. Hanya saja perselisihan terjadi pada ali bin abi thalib dan usman. Sedangkan mengenai abubakar dan umar, seluruh umat sepakat menerima mereka termasuk golongan khawarij.'

dalam kitabnya minhaj al-sunnah ibnu taimiyah menceritakan seorang tokoh syi'ah syarik bin abdullah ditanya oleh salah seorang: "siapakah yang lebih utama, abu bakar atau ali? Syarik menjawab: abu bakar. Ia bertanya lagi: bagaimana anda dapat mengatakan yang demikian itu, padahal anda seorang syi'ah? Syarik menjawab: ya, barangsiapa tidak mengatakan yang demikian itu, maka ia bukanlah seorang syi'ah. Demi allah, hal tersebut telah dikumandangkan oleh ali ra, ia berkata: 'ketahuilah, bahwasanya sebaik-baiknya orang dalam ummat ini, sesudah nabinya, adalah abu bakar kemudian umar.' syarik berkata: bagaimana kami (kaum syi'ah) dapat menolak perkataan itu? Bagaimanakah pula kami dapat mendustakannya, sedang ia (ali bin abi thalib), demi allah bukanlah seorang pendusta."

abu abdullah al-mazari pernah menerangkan bahwa pada suatu hari imam malik ditanya, manakah orang-orang yang utama setelah nabi saw? Beliau menjawab: 'abubakar sesudah itu umar, kemudian ia terdiam. Lalu yang bertanya mengatakan bahwa imam malik ragu, dan penanya meminta kepastian antara ali dan usman. Imam malik menjawab: saya belum pernah mendapati seorang sahabat yang membeda-bedakan keutamaan antara usman dan ali.'

pada zaman zaid bin ali zainal abidin, kaum rafidhah lebih dikenal dengan penolakan mereka terhadap keutamaan abubakar dan umar. Mereka berpendapat bahwa ali bin abi thalib lebih utama dari abubakar dan umar. Sebutan rafidhah dikarenakan terjadinya dialog antara zaid bin ali dengan beberapa orang kufah. Mereka bermaksud mendukung perjuangan zaid bin ali melawan penguasa zholim saat itu, tetapi mereka memberikan syarat kepada zaid bin ali agar beliau mengakui bahwa ali bin abi thalib lebih utama dari abubakar dan umar. Zaid bin ali menolak syarat yang diajukan oleh orang-orang kufah tersebut. Maka sejak itulah orang-orang tersebut dikenal dengan sebutan rafidhah.

Menurut sayid husain al-musawi, imam ja'far al-shaddiq berkata bahwa rafidhah adalah suatu nama yang langsung diberikan oleh allah swt, sebagaimana perkataan beliau dalam kitab raudhah al-kafi 5/34: 'tidak demi allah, bukan mereka yang menamainya dengan nama tersebut (rafidhah) tetapi allah-lah yang menamai mereka dengan nama itu.'

rasulullah saw telah memperingatkan dan mengkhabarkan akan kelahiran mereka (rafidhah) di masa yang akan datang, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh imam ahmad dalam musnadnya, daruquthni, al-dzahabi, uqaili, qadhi iyadh yang diriwayatkan dari banyak sahabat diantaranya ali bin abi thalib, siti fathimah, ummi salamah, al-hasan, jabir al-anshari, ibnu abbas, iyadh al-anshari, dimana mereka semua mendengar dan meriwayatkan dari rasulullah saw, beliau bersabda:
سيأتي من بعدى قوم لهم نبز يقال الرّافضة. فان ادركتهم فاقتلهم فانّهم مشركون
"akan datang sesudah kepergianku, suatu kaum yang mempunyai julukan rafidhah. Maka jika kalian menemukan mereka maka perangilah, karena sesungguhnya mereka adalah golongan orang-orang yang mempersekutukan tuhan".

Begitu pula hadits yang diriwayatkan oleh al-hasan, rasulullah saw bersabda:
يكون فىاخر الزّمان قوم يسمّون الرّافضة يرفضون الاسلام فاقتلوهم فانّهم مشركون
kelak di akhir zaman terdapat suatu kaum yang disebut rafidhah, di mana mereka meninggalkan islam. Maka perangilah mereka karena mereka adalah golongan orang-orang yang mempersekutukan tuhan.

Diriwayatkan dari daruquthni, ali bin abi thalib berkata:
فسألت عن علامتهم فقال: يتتحلون حبّ اهل البيت وليسوا كذالك وعلامة ذالك أنّهم يسبّون ابابكر وعمر
"maka aku bertanya tentang ciri-ciri mereka (kaum rafidhah). Maka rasulullah saw menjawab: 'mereka seakan-akan mencintai keluarga nabi, sementara mereka tidaklah begitu. Dan tanda-tanda dari itu adalah mereka gemar mencaci maki abubakar dan umar."

dalam riwayat lain dari ali bin abi thalib, rasulullah saw bersabda:
يا على انت فى الجنّة , يا على انت فى الجنّة , يا على انت فى الجنّة , وسيكون قوم يقال لهم الّرافضة فإذا ادركتهم فقاتلهم. فقال يا نبي الله ما علامتهم ؟ قال: لايرون جماعة ولاجمعة ويشتمون ابابكر و عمر
"wahai ali, kamu akan masuk surga, wahai ali, kamu akan masuk surga, wahai ali, kamu akan masuk surga. Dan kelak ada suatu kaum yang disebut rafidhah, jika kamu menemukan, perangi mereka. Ali bin abi thalib bertanya, wahai nabi allah, apa tanda-tanda mereka. Nabi saw menjawab: 'mereka tidak pernah terlihat berjamaah, tidak melakukan shalat jum'at dan mereka mengumpat abubakar dan umar."

diantara salah satu pemuka madzhab fiqih dalam ahlu sunnah yang kita kenal adalah imam syafii. Sebagaimana kita ketahui bahwa imam syafii adalah seorang mujtahid yang mempunyai kecintaan kepada ahlul bait nabi saw yang dapat dilihat dari syair-syairnya. Di samping itu beliau juga cinta kepada sahabat-sahabat nabi saw. Imam syafii berkata:

"allah tabaraka wa ta'ala telah menyampaikan pujian kepada sahabat-sahabat rasulullah saw di dalam alquran, taurat dan injil. Dan telah lebih dahulu disampaikan tentang keutamaan mereka melalui lisan rasulullah saw, sesuatu yang tidak dimiliki oleh seorangpun setelah mereka. Maka, allah pun menyangi mereka dan menempatkan mereka pada setinggi-tinggi derajat dan kedudukan yaitu kedudukan orang-orang yang jujur, para syuhada dan orang-orang saleh. Merekalah yang telah menyampaikan kepada kita sunnah-sunnah rasulullah saw dan merekalah yang menyaksikannya. Ketika wahyu diturunkan kepada rasulullah saw, mereka mengerti apa yang dikehendaki oleh rasul dalam keadaan umum maupun khusus, dan mereka mengerti apa yang dikehendaki oleh rasul dalam keadaan umum maupun khusus, dan mereka mengetahui dari sunnahnya apa yang kita ketahui dan apa yang tidak kita ketahui. Dan mereka berada di atas kita dalam bidang ilmu pengetahuan, ijtihad, sikap wara', serta perkara yang dapat difahami oleh ilmu dan disimpulkannya. Pemikiran-pemikiran mereka untuk kita lebih terpuji dan lebih utama daripada pemikiran-pemikiran yang datang dari kita untuk kita. Jika seseorang di antara mereka menyatakan pendapatnya, kemudian tidak seorangpun yang menyalahkannya, maka kita pun akan mengambil pendapatnya."

berkata imam syafii: "saya tidak melihat orang yang dicoba dengan tindakan mencela para sahabat rasulullah saw, melainkan dengan celaan itu allah swt menambahkan kepada mereka (sahabat) pahala di saat sudah terputusnya amal perbuatan mereka (setelah meninggal dunia)."

imam syafii berkata tentang keutamaan para khalifah yang empat dan derajat mereka di kalangan para sahabat: "manusia paling utama sesudah rasulullah saw, yaitu abubakar, umar, usman dan ali bin abi thalib." setelah itu beliau bersyair:
aku telah bersaksi bahwa allah, tiada sesuatu selain-nya
dan aku bersaksi bahwa kebangkitan itu haq dan aku ikhlas
bahwa pakaian iman itu adalah ucapan yang baik
perbuatan yang bersih yang terkadang bertambah dan berkurang
bahwa abubakar itu adalah khalifah ahmad
sedang abu hafsh terhadap kebaikan, berusaha sungguh-sungguh
aku mempersaksikan tuhanku bahwa usman itu utama
bahwa ali mempunyai keutamaan yang khusus
imam-imam kaum, yang diikuti tuntunan mereka
semoga allah swt memberikan keselamatan kepada orang yang didiskreditkan
mengapa orang-orang sesat itu mencaci maki dalam kebodohan
dan apa yang datang dari orang bodoh itu tidak dijawab tapi harus diludahi.

Imam syafii mengambil rujukan tentang keutamaan abubakar dengan beberapa perkara, antara lain melalui sejumlah hadits dari nabi saw yang mengisyaratkan keutamaannya, diantarannya dari hadits yang diriwayatkan oleh hudzaifah al-yamani, bahwa nabi saw bersabda:
"ikutlah kalian kepada dua orang sesudahku, abubakar dan umar"

selanjutnya imam syafii berkata bahwa tidak berselisih pendapat seorangpun dari kalangan sahabat dan tabi'in tentang pengutamaan abubakar dan umar dan mendahulukan mereka atas semua sahabat. Dalam hal ini bukan berarti imam syafii merendahkan ali bin abi thalib, beliau menyebutkan bahwa seorang laki-laki dari suatu kaum berkata: 'tidaklah pergi orang-orang dari ali kecuali karena ia tidak memperdulikan seseorang'.

Secara perlahan imam syafii berkata: 'karena pada dirinya terdapat empat macam budi pekerti, tidak satu pekerti pun darinya ada pada seseorang kecuali merupakan hak baginya untuk tidak memperdulikan terhadap orang lain.

Ali bin abi thalib adalah seorang zahid
orang zahid itu tidak memperdulikan dunia dan penghuninya
dia adalah orang berilmu dan orang berilmu tidak memperdulikan terhadap seorang
dia adalah pemberani dan orang pemberani tidak akan memperdulikan siapa pun
dia adalah orang mulia dan orang mulia tidak memperdulikan terhadap seorang

terhadap kaum rafidhah imam syafii berpendapat: 'belum pernah saya saksikan di kalangan manapun orang-orang yang begitu berani menjadi pembual dan memberikan kesaksian palsu seperti golongan rafidhah.'

imam abdullah bin alwi al-haddad berkata: kita harus meyakini keutamaan para sahabat nabi saw dan urutan keutamaan mereka. Mereka adalah orang-orang yang adil, baik dan pantang berdusta. Mereka tidak boleh dicerca dan dicela. Khalifah yang benar sepeninggalan rasulullah saw ialah abu bakar, umar, ustman dan ali bin abi thalib.

Mengenai urutan keutamaan sahabat, imam al-haddad pernah ditanya oleh kaum syi'ah: untuk apa anda mendahulukan orang lain daripada sesepuh anda sendiri, ali bin abi thalib? Imam al-haddad menjawab: dia (ali bin abi thalib) sendirilah yang mendahulukan orang lain (abu bakar ra) dan memandangnya lebih utama ketimbang dirinya. Karena itulah kami juga mendahulukannya (abu bakar) dan memandangnya lebih utama. Dalam hal itu kami mengikuti jejak sesepuh kami (ali bin abi thalib).

Imam al-haddad kemudian berbicara tentang ahlu-rafdh (kaum rafidhah). Beliau berkata: mereka itu orang-orang bathil, tidak ada orang-orang yang menyebut-nyebut mereka dan tidak ada pula yang menagisi mereka. Meskipun pada mereka terdapat sekelumit kebenaran, tetapi mereka mencampurnya dengan kebatilan.

Imam al-haddad di dalam suratnya kepada saudaranya al-hamid di india, antara lain menyatakan: tidak ada yang lebih buruk, lebih keji, dan lebih memalukan daripada munculnya orang-orang yang berunjuk rasa menyatakan kebencian terhadap dua orang syaikh, al-shiddiq dan al-faruq. Mereka yang membenarkan sikap menolak (dua khalifah tersebut) sungguh sangat tercela, baik menurut syariat maupun menurut akal, inna lillahi wa inna ilaihi raji'un…

5. DIALOG IMAM JA'FAR AL-SHADDIQ DENGAN KAUM RAFIDHAH.
Diriwayatkan oleh ali ibnu soleh, telah datang seorang lelaki dari kaum rafidhoh kepada imam ja'far bin muhammad al-shaddiq, kemudian ia berkata:

rafidhi: assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Imam ja'far: wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh.
Rafidhi: wahai anak rasulullah, siapakah manusia yang terbaik sesudah rasulullah saw?
Imam ja'far: abu bakar al-shiddiq radhiyallahu anhu.
Rafidhi: apa hujjah atas yang demikian itu.
Imam ja'far: allah swt berfirman:
لاَ تَحْزَنْ إِنَّ اللهَ مَعَنَا. فَأَنْزَلَ اللهُ سَكِيْنَتَهُ , عَليْهِ وَ أَيَّدَهُ بِجُنُوْدٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُفْلَى ,إِلاَّ تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِيْنَ كَفَرُوا ثَانِىَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِى الغَارِ إِذْيَقُولُ لِصَاحِبِهِ , وَكَلِمَةُ اللهِ هِىَ العُلْيَا. واللهُ عَزِيْزٌ حَكِيمٌ
'janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya allah bersama kita'. Maka allah menurunkan ketenangan-nya kepada (muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat allah itulah yang tinggi. Allah maha perkasa lagi maha bijaksana.

Imam ja'far: selain mereka berdua yang utama, apakah ada diantara manusia yang lebih utama dari abu bakar selain nabi saw?
Rafidhi: ali bin abi thalib, karena beliau tidur di pembaringan rasullulah untuk menggantikannya tanpa sedikitpun merasa gelisah, cemas, khawatir dan takut.

Imam ja'far: begitu pula abu bakar, sesungguhnya ia bersama nabi saw tanpa sedikitpun merasa gelisah, cemas, khawatir dan takut.
Rafidhi: sesungguhnya allah swt telah berfirman berlainan dengan apa yang engkau katakan!

Imam ja'far: apa bunyinya?
Rafidhi: allah berfirman:إِذْيَقُولُلِصَاحِبِهِ,لاَتَحْزَنْإِنَّاللهَمَعَنَا
yang berarti abu bakar mempunyai perasaan gelisah, cemas khawatir dan takut?

Imam ja'far: tidak! Karena kata sedih (حزن ) bukanlah gelisah, cemas, khawatir atau takut. Abu bakar merasa sedih karena nabi saw akan dibunuh, sehingga beliau tidak akan dapat lagi membela dan melayani agama allah swt. Abubakar tidak bersedih karena memikirkan dirinya sendiri, ketika ia disengat lebih dari seratus sengatan ular, ia bertahan merasakan sengatan itu, tidak gelisah, tidak bangun dari tempatnya bahkan tidak bergerak sedikitpun.
Rafidhi: allah swt berfirman:
إِنَّمَا وَلِّيُكُمْ اللهُ وَرَسُوْلُهُ وَالَّذِيْنَ آ مَنُوا الَّذِيْنَ يُقِيمُوْنَ الصَّلاَةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ
sesungguhnya penolong kamu hanyalah allah, rasul-nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada allah).

Ayat tersebut turun berkenaan dengan ali bin abi thalib ketika ia sedang ruku', ia memberikan cincinnya sebagai sedekah. Dan rasulullah saw bersabda: الحمد لله الذي جعلها فيَّ و في أهل بيتي (segala puji bagi allah yang telah menjadikan pahala sedekah itu untuknya dan untuk keluarganya).

Imam ja'far: ayat yang turun sebelumnya pada surah tersebut mempunyai keutamaan yang lebih besar lagi. Allah swt berfirman:
يَاأَيُّهَّا الَّذِيْنَ آ مَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِيْنِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ
hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak allah akan mendatangkan suatu kaum yang allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-nya.

Yang dimaksud di atas adalah murtad setelah rasulullah saw wafat. Sebagian orang arab murtad dan tidak mau menyerahkan zakat setelah rasulullah wafat. Kaum kafir tersebut berkumpul di nahawan dan berkata: orang yang yang telah menyebarkan agama allah telah meninggal. Sehingga umar bin khottob berkata kepada abubakar: 'terimalah sholat mereka, tinggalkanlah zakat mereka'. Abubakar berkata: 'jika saja mereka menolakku untuk mengambil zakat mereka walaupun sekedar tali leher onta sebagaimana pernah diperintahkan oleh rasulullah saw, maka akan aku perangi mereka, sekalipun mereka semua berkumpul melawanku, tetap akan aku perangi sendirian'. Ayat tersebut menunjukkan bahwa abubakar lebih utama.
Rafidhi: sesungguhnya allah saw telah berfirman:
يُنْفِقُونَ أمْوَالَهُمْ بِالَّلَيلِ وَ النَّهَارِ سِرًّا وَ عَلاَنِيَةً
orang-orang yang menginfaqkan hartanya pada waktu malam dan siang dalam keadaan rahasia maupun terang-terangan.

Ayat tersebut turun berkenaan dengan ali bin abi thalib yang menginfaqkan hartanya sebesar empat dinar. Beliau menginfaqkan satu dinar pada malam hari, satu dinar pada siang hari, satu dinar dengan cara rahasia dan satu dinar lagi beliau infaqkan dengan terang-terangan.

Imam ja'far: abu bakar shiddiq lebih utama lagi dari peristiwa tersebut.
Alquran menggambarkan beberapa ayat yang turun berkenaan dengan abu bakar shiddiq. Allah swt berfirman:
وَاللّيلِ إِذَا يَغْشى , وَالنَّهَارِ إِذَا تَجَلّى , وَمَا خَلَقَ الذَّكَرَ وَالأنْثى , إِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتَّى , فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقى , وَصَدَّقَ بِالْحُسْنى (abubakar), فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرى (abubakar),وَ سَيُجَنَّبُهَا الأَتْقى , الَّذِي يُؤْتِي مَالُهُ يَتَزَكَّى(abubakar) وَمَا لأَحَدٍ عِنْدَهُ مِنْ نِعْمَةٍ تُجْزى , إِلاَّ ابْتِغَاءَ وَجْهُ رَبِّهِ الأَعْلى, وَلَسَوْفَ يَرْضى (abubakar)
abubakar shiddiq telah menginfaqkan hartanya kepada rasulullah saw sebesar empar puluh ribu dinar hingga ia menjadi orang yang fakir. Maka malaikat jibril pun diutus allah swt untuk bertemu nabi saw, dan berkata: 'sesungguhnya allah swt menyampaikan salam kepadamu'. Kemudian jibril berkata: 'sampaikan salamku kepada abu bakar. Dan tanyakan kepadanya, apakah engkau (wahai abubakar) ridho atas kefakiranmu ini ataukah tidak? Abu bakar menjawab: apakah aku pantas tidak ridho kepada allah swt? Sesungguhnya saya sangat ridho! (diucapkan tiga kali). Dan allah akan memenuhi janji kepada orang yang diridhoi-nya.

Rafidhi: akan tetapi allah swt berfirman berkenaan dengan ali bin abi thalib:
أَجَعَلْتُمْ سِقَايَةَ الحَاجِّ وَعِمَارَةَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ كَمَنْ آمَنَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَجَاهَدَ فِي سَبِيْلِ اللهِ لاَ يَسْتَوُوْنَ عِنْدَاللهِ

apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus masjidil haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan allah? Mereka tidak sama di sisi allah.

Imam ja'far: begitu pula dengan ayat alquran yang turun berkenaan dengan abubakar. Allah swt berfirman:
لاَ يَسْتَوِي مِنْكُمْ مَّنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ أُوْلَئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِّنَ الَّذِينَ أَنْفَقُوا مِنْ بَعْدُ وَقَاتَلُوا وَكُلاً وَعَدَاللهُ الْحُسْنى وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ
tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (mekah). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. Dan allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (al-haddid: 10)

sesungguhnya abubakar adalah orang pertama yang menginfaqkan hartanya kepada rasulullah saw, pertama kali yang berjihad bersama rasulullah saw. Ketika orang-orang musyrik datang menganiaya nabi saw hingga berdarah di makkah, berita tersebut terdengar oleh abubakar, segera beliau mendatangi nabi saw dan seraya berkata kepada kaum musyrikin: 'celakalah kamu, apakah kamu sekalian ingin membunuh seorang yang berkata allah swt adalah tuhannya di mana kebenaran itu telah datang kepadamu melalui tuhanmu?' maka kaum musyrikin tersebut meninggalkan nabi saw dan membawa abubakar serta memukulnya hingga tidak terlihat jelas hidung di wajahnya ( karena tertutup oleh darah akibat pukulan kaum musyrikin).

Abubakar adalah orang yang pertama berjihad di jalan allah swt. Orang yang pertama berperang bersama rasulullah saw, orang yang pertama menginfaqkan hartanya, sehingga rasulullah saw bersabda: 'tidaklah bermanfaat bagiku suatu harta sebagaimana harta abubakar'.

Rafidhi: akan tetapi ali bin abi thalib tidak pernah menyekutukan allah swt sekejap matapun.
Imam ja'far: sesungguhnya allah swt telah memuji kepada abubakar dengan berbagai macam pujian. Allah swt berfirman pada surat al-zumar 33:
وَالَّذِي جَاءَ بِالصِدْقٍ (rasulullah saw) , وَصَدَّقَ بِهِ (abubakar)

ketika kaum musyrikin saat itu berkata kepada nabi saw:

'engkau adalah seorang pendusta' , tetapi abubakar berkata kepada nabi saw: 'engkau adalah seorang yang benar'. Maka turunlah ayat ini yang merupakan ayat tashdiq (pembenaran) yang khusus ditujukan kepada seorang yang taqwa, suci, ridho dan diridhoi, dan menunaikan segala amanah.

Rafidhi: akan tetapi cinta kepada ali bin abi thalib diwajibkan dan hal itu terdapat dalam kitabullah. Allah swt berfirman dalam surat al-syura ayat 23:
قُلْ لاَّ أسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إَلاَّ الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبى
tidaklah aku minta kepada kalian, kecuali kecintaan kalian kepada keluargaku.

Imam ja'far: begitu pula dengan abubakar. Allah swt berfirman dalam surat al-hasyr 10:
وَالَّذِينَ جَاءُ وا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُوْنَا بِالإِيمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِي قُلُوْبِنَا غِلاًّ لّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفُ رَّحِيمٌ
dan orang-orang yang datang sesudah mereka (muhajirin dan anshor),mereka berdoa: 'ya tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman, ya tuhan kami, sesungguhnya engkau maha penyantun lagi maha penyayang.

Abubakar termasuk orang-orang terdahulu dalam beriman, maka istighfar baginya adalah wajib, cinta kepadanya adalah wajib, dan benci kepadanya adalah suatu perbuatan kufur.

Rafidhi: nabi saw bersabda:
الحَسَنُ وَالحُسَينُ سَيِّدًا شَبَابِ أَهْلِ الجَنَّةِ وَاَبُوهُمَا خَيْرٌ مِنْهُمَا
hasan dan husein adalah penghulu pemuda ahli surga, dan ayahnya lebih baik dari keduanya.

Imam ja'far: abubakar mempunyai kedudukan yang lebih utama dari yang demikian itu, sebagaimana ayahku meriwayatkan kepadaku dari kakekku dari ali bin abi thalib: "ketika aku bersama nabi saw dan tidak ada orang selain diriku, datanglah abubakar dan umar, maka nabi saw berkata:
يَا عَلي! هَذَانِ سَيِّدًا كُهُوْلِ أَهْلِ الجَنَّةِ وَشَبَابُهُمَا , … لاَ تَخْبرهُمَا يَا عَلي , مَا دَامَا حَيَّين
'wahai ali kedua orang ini adalah penghulu orang dewasa dan pemuda penghuni surga, … janganlah engkau beritahukan kabar ini selama keduanya masih hidup'. Maka tidak aku beritahukan hal itu kepada salah seorang pun hingga mereka berdua meninggal dunia.

Rafidhi: mana yang lebih utama, fathimah binti rasulullah saw atau aisyah binti abubakar shiddiq?
Imam ja'far: (بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم)ِ. ( يس , وَالْقُرْآنِ الْحَكِيْمِ ) , ( حم , وَالْكِتَابِ الْمُبِيْنِ )
saya bertanya kepada anda mana yang lebih utama yasin atau haa miim? Berdasarkan hal itu mana yang lebih utama fathimah binti nabi saw atau aisyah binti abubakar shiddiq, bacalah alquran?!

Aisyah binti abubakar shiddiq bersama rasulullah saw di surga, dan fathimah binti nabi saw adalah penghulu kaum wanita penghuni surga. Allah swt melaknat hambanya yang mencemarkan kehormatan isteri rasulullah saw serta membinasakan hambanya yang membenci fathimah binti rasulullah saw.

Rafidhi: aisyah telah membunuh ali bin abi thalib, padahal ia adalah isteri rasulullah saw.
Imam ja'far: sungguh celaka engkau! Allah swt berfirman (al-ahzab 53):
وَمَا كَانَ لَكُمْ أَنْ تُؤْذُوْا رَسُوْلُ اللهِ ; dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) rasulullah.

Rafidhi: abubakar, umar, usman dan ali, apakah kekhalifahan mereka terdapat dalam alquran?
Imam ja'far: ya, bahkan dalam kitab taurat dan injil. Allah swt berfirman:
وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلاَئِفَ الأَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ
dan dialah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi dan dia yang meninggikan sebagian kamu atas sebagian (yang lain) beberapa derajat.
اَمَّن يُجِيبُ المُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الأرْضِ
atau siapakah yang memperkenankan (do'a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo'a kepada-nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan menjadikanmu (manusia) sebagai khalifah di muka bumi?
لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكَّنَنَّ لَهُمْ دِينُهُمْ الَّذِي ارْتَضى لَهُمْ
dan dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka khalifah (berkuasa) di muka bumi, sebagaimana dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka khalifah (berkuasa), dan sungguh dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhoi-nya untuk mereka.

Rafidhi: wahai anak rasulullah, di mana dalam kitab taurat dan injil yang menceritakan kekhalifahan mereka?
Imam ja'far: allah swt berfirman:
مُحَمَّدٌ رَّسُولُ اللهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ (abubakar) , أَشِدَّاءُ عَلَى الكُفَّارِ (umar) , رُحَمَاءُ بِيْنَهُمْ(usman) , تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدَا يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِّنَ اللهِ وَرِضْوَانًا (ali) , سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مَِنْ أَثَرِ السُجُودِ (para sahabat nabi saw) , ذَالِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الإِنْجِيلِ

apa makna yang terdapat dalam taurat dan injil tersebut? Yaitu: muhammad adalah seorang rasul dan khalifahnya sesudahnya abubakar, umar, usman dan ali bin abi thalib. Tampak wajah rafidhi itu belum dapat menerima penjelasan imam ja'far, maka beliau berkata: 'celakalah engkau! Allah swt berfirman:
كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ (abubakar), فَاسْتَغْلَظَ (umar), فَاسْتَوى عَلَى سُوْقِهِ (usman) يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيْظَ بِهِمْ الكُفَّارَ (ali bin abi thalib) وَعَدَ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُواالصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَاَجْرًا عَظِيْمًا (para sahabat rasulullah saw)

rafidhi: wahai anak rasulullah, apakah hal ini terdapat dalam alquran?

Imam ja'far: ya. Allah swt berfirman:
وَجِيءَ بِالنَّبِيِّينَ وَالشُّهَدَاءِ (abubakar, umar, usman dan ali bin abi thalib),وَقُضِيَ بَيْنَهُمْ بِالحَقِّ وَهُمْ لاَ يُظْلَمُوْنَ

rafidhi: wahai anak rasulullah, apakah allah swt akan menerima taubatku yang telah membedakan keutamaan antara abubakar, umar, usman dan ali bin abi thalib?

Imam ja'far: ya, pintu taubat selalu terbuka, maka perbanyaklah istighfar bagi mereka. Jika engkau selalu membeda-bedakan di antara mereka, maka engkau akan meninggal bukan dalam kesucian islam, dan kebaikan engkau seperti amalan para orang-orang kafir yang tidak bermanfaat.


Setelah peristiwa dialog itu, rafidhi tersebut bertaubat.

Sabtu, 28 Jun 2014

AHLULBAIT NABI SAW – DALAM BAB ZAKAT, GHANIMAH DAN SEDEKAH

ZAKAT, HALAL ATAU HARAM?

Keupayaan Menjaga Kesucian Dzat Ahlul Bait SAW

1. MAKNA ZAKAT
Erti kata zakat menurut bahasa adalah tumbuh. Di dalam syariat, zakat ialah sedekah wajib dari sebagian harta. Sebab dengan mengeluarkan zakat maka pelakunya akan tumbuh (mendapat kedudukan tinggi) di sisi Allah SWT dan menjadi orang yang suci dan disucikan. Makna yang demikian ini diisyaratkan oleh firman Allah SWT dalam surah At-Taubah ayat 104: خُذْ مِنْ اَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَ تُزَكِّهِمْ بِهَا
artinya: ambillah sedekah dari harta mereka agar menyucikan dan membersihkan mereka.

Firman allah swt dalam surah al-hajj ayat 41:
الَّذِينَ اِنْمَّكَّنَّهُمْ فىِالأَرْضِ اَقَامُوا الصَّلوةَ وَاتَوُا الزَّكوةَ...
Artinya: (yang dinamakan orang mukmin ialah) orang-orang yang bila kami tempatkan di bumi, maka mereka mengerjakan sholat dan mengeluarkan zakat.

Rasulullah SAW bersabda: "3 macam, yang karenanya saya bersumpah menceritakan kisah yang sebenarnya terjadi, iaitu: harta tidak berkurang karena disedekahkan, tidaklah teraniaya hamba Allah yang bersabar, kecuali tambah kemuliaannya di akhirat, dan Allah tidak membukakan suatu pintu tempat meminta, kecuali dibukakan-nya pula pintu kefakiran."

Bila orang yang mengeluarkan zakat memperhatikan bagaimana gembiranya orang yang menerima zakat, maka ia akan mempunyai hati yang halus, bagaikan seorang gadis yang baru menyiram bunganya yang sedang layu, maka bunga tersebut segar kembali. Sebenarnya bila Allah SWT hendak membukakan pintu pahala bagi orang kaya, maka dijadikan-nya orang-orang yang akan meminta kepadanya, bila semua manusia kaya, maka si kaya tidak akan dapat menambah pahalanya. Kepada siapa mereka akan memberikan hartanya. Semua itu merupakan kejadian yang harus diambil hikmahnya.

Anas bin Malik menceritakan, bahwa seorang laki-laki dari Suku Tamim datang dan mengatakan kepada Rasulullah SAW: Ya Rasulullah, sesungguhnya saya ini mempunyai kekayaan yang banyak, mempunyai keluarga dan banyak teman yang menjadi tetamu. Bagaimana seharusnya saya mengeluarkan zakat saya? Rasulullah SAW menjawab: "keluarkan zakat itu dari harta milikmu sendiri, karena zakatnya itu bagaikan pencuci yang mensucikan kamu, menghubungkan tali silaturahim kepada kerabatmu, di samping itu kamu juga mengakui adanya hak fakir miskin, tetangga dan orang yang meminta-minta". Selanjutnya Rasulullah bersabda: من ادّى زكاة ماله ذهب عنه شرّه
artinya: siapa saja yang telah membayarkan zakat hartanya, maka telah dilenyapkan daripadanya hal-hal yang jahat.

2. PENDAPAT ULAMA TENTANG GHANIMAH DAN FA'I.
Berdasarkan sumber hukum, semua keturunan Ahlul Bait Rasulullah SAW termasuk Bani Hasyim dan Bani Abdul Mutholib diharamkan menerima sedekah atau zakat dalam bentuk apapun juga. Mereka diberi hak untuk memperoleh bagian dari ghanimah atau dari harta kekayaan umum (Baitul Mal). Akan tetapi dalam zaman kita dewasa ini tidak ada lagi ghanimah dan tidak ada pula dana Baitul Mal sebagaimana yang dahulu pernah terjadi pada zaman pertumbuhan Islam.

Dengan terjadinya perkembangan yang demikian jauh dibanding dengan zaman Rasulullah SAW, maka sebagai akibatnya para keturunan Ahlul Bait Rasulullah SAW yang hidup kekurangan tidak dapat menerima tunjangan yang oleh syariat telah ditetapkan sebagai hak mereka. Lagi pula banyak sekali di antara mereka yang hidup bertebaran di negeri atau daerah-daerah terpencil. Dalam keadaan seperti ini apakah oleh syariat mereka diperkenankan menerima sedekah atau zakat dari orang-orang kaya setempat untuk meringankan beban hidup mereka sehari-hari?

Untuk menjawab masalah ini, dipandang perlu kita mengetahui dalil-dalil tentang hal tersebut, baik yang diambil dari Al Quran, Hadits maupun Ijtihad para ulama. Mudah-mudahan uraian ini dapat membantu menghantarkan dalam upaya membahas masalah halal atau tidaknya keluarga Rasulullah SAW menerima sedekat atau zakat, dan dengan membaca uraian ini diharapkan pula dapat menghasilkan jawaban yang menghapus keraguan selama ini di antara sebagian keturunan Rasulullah SAW tentang boleh atau tidaknya mereka menerima sedekah/zakat.
وَاعْلَمُوْا أَنَّمَا غَنِمْتُمْ مِّن شَيْءٍ فَأَنَّ لِلّهِ خُمُسَهُ وَ لُلْرُسُولِ وَ لِذِى الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِيْنِ وَابْنِ السَبِيْلِ
artinya: ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang (ghanimah), maka sesungguhnya seperlima untuk allah, rasul, kerabat rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnu sabil.

Dalam kitab tafsir fath al-qadir dan ibnu katsir disebutkan pendapat yang mengatakan bahwa khumus adalah untuk Allah, Rasul, Kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin, ibnu sabil. Selain itu disebutkan pula pendapat yang mengatakan bahwa khumus tersebut dibagi 6, dan bagian yang ke 6 untuk kaabah.

Perbedaan pendapat terjadi pula atas bagian rasul dan kerabat setelah rasul wafat, ada yang mengatakan bagian rasul untuk khalifahnya, pendapat lain mengatakan bagian tersebut tetap untuk kerabat Nabi SAW, pendapat lain mengatakan bagian kerabat Nabi diperuntukkan kerabat khalifah.

Dalam kitab Majmak Al-Bayan disebutkan bahwa khumus merupakan hak dari keluarga Rasulullah, iaitu anak-anak yatim keluarga Muhammad, orang-orang miskin dari mereka, dan ibnu sabil dari kalangan mereka. Hal tersebut sesuai dengan yang diriwayatkan oleh Al-Thabari dari Zainal Abidin Ali bin Husin, sesungguhnya khumus adalah hak kami. Allah berfirman: وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِيْنِ وَابْنِ السَبِيْلِ

Yang dimaksud dengan ayat di atas adalah anak-anak yatim kami, orang-orang miskin dan ibnu sabil dari kalangan kami. Hal itu disebabkan mereka telah diharamkan menerima sedekah yang merupakan daki/kotoran manusia, sebagai gantinya yaitu khumus.

Menurut Syafii dan Hambali: "harta rampasan perang itu, yaitu 1/5 (khumus) dibagi ke dalam 5 bagian;
1)    1 bagian adalah untuk Rasul, dan dipergunakan untuk kemaslahatan dan perbaikan umat Islam.
2)    1bagian diberikan untuk kerabat (keluarga), yaitu keluarga dari keturunan Bani Hasyim, baik yang kaya maupun fakir, tak ada bedanya.
3)    3 bagian lainnya dikeluarkan untuk anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnu sabil, baik mereka dari keturunan bani hasyim maupun bukan."

Menurut Imam Hanafi: "bagian untuk Rasulullah telah gugur dengan wafatnya. Kalau para kerabat (famili), mereka seperti yang lain dari kalangan orang-orang fakir. Mereka diberi karena kefakiran mereka, bukan karena mereka menjadi kerabat (famili) Rasulullah SAW.

Menurut Imam Maliki: "masalah khumus (1/5) ini kembali atau diserahkan kepada Imam (pemimpin) agar dipergunakan untuk kemaslahatan umat."

4. BOLEHKAN KELUARGA RASULULLAH SAW MENERIMA SEDEKAH?
عن عبد المطلب بن ربيعة بن الحارث , قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ان الصدقة لا تنبغي لأل محمد, إنما هي أوساح الناس (رواه مسلم)
Ertinya: dari Abdul Mutholib bin Rabi'ah bin Harits berkata, bersabda Rasulullah SAW: Sesungguhnya sedekah tidak pantas (tidak halal) bagi keluarga Muhammad, karena sedekah itu adalah daki (kotoran) manusia.

Dalam suatu riwayat Muslim dari Abdul Mutholib, Rasulullah SAW bersabda:
وانها لا تحل لمحمد ولا لأل محمد (رواه مسلم)
artinya: sesungguhnya sedekah itu tidak halal bagi Nabi Muhammad dan bagi keluarga Muhammad SAW.

Hadits tersebut memberikan pengertian bahwa lafadz لا تنبغي itu beliau maksudkan "tidak halal" yang berarti memberikan pengertian Haram. Hadits tersebut sebagai dalil yang menunjukkan haram sedekah bagi Nabi Muhammad dan keluarganya. Mengenai haramnya zakat bagi pribadi Nabi SAW para ulama telah sepakat.

Abu Hurairah menceritakan, bahwa pernah Hasan bin Ali mengambil sebiji kurma dari hasil zakat, maka berkata Rasulullah kepadanya: كخ كخ , ليطرحها , اما شعرت انّا لا نأ كل الصدقة
artinya: hai hai! (maksudnya agar dibuang). Apakah kamu belum tahu, bahwa kita tidak boleh memakan hasil dari zakat.

Imam Ja'far al-Shaddiq pernah ditanya, apakah sedekah halal bagi Bani Hasyim. Beliau menjawab: "sedekah wajib tidak halal bagi kami, adapun selainnya tidak apa-apa".

Berkata Ibnu Qudamah: kami tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat bahwa sesungguhnya Bani Hasyim tidak dihalalkan untuk menerima sedekah wajib/zakat. Hal itu disebutkan dalam kitab Al-Ijma karangan Ibnu Ruslan.

Abdullah bin Nuh menulis, menurut Mazhab Syafii, dalam keadaan bagaimanapun juga mereka mutlak diharamkan menerima sedekah atau zakat. Akan tetapi sebagian ulama Syafiiyah membolehkan keluarga Nabi SAW menerima sedekah atau zakat.

Ibnu Jarir Al-Thabari menukil akan kebolehan Bani Hasyim menerima sedekah dari Imam Hanafi, begitu pula dari Imam Malik dan sebagian ulama Syafiiyah. Menurut Abu Yusuf, sesungguhnya mereka dihalalkan menerima sedekah dari mereka untuk mereka bukan dari yang lainnya. Ertinya keluarga Bani Hasyim dihalalkan menerima sedekah dari yang diberikan dari Bani Hasyim juga. Jika keluarga Bani Hasyim menerima sedekah dari bukan Bani Hasyim maka hal itu tidak dibolehkan. Begitu pula pendapat dari Zaid bin Ali, Abi Abbas dan Imamiyah.

Menurut Ibnu Hajar Al-Asqolani: menurut ulama Malikiyah terdapat 4 pendapat: membolehkan, melarang, membolehkan menerima sedekah sunnah dan melarang menerima sedekah wajib (zakat), membolehkan menerima sedekah wajib dan melarang menerima sedekah sunnah.

Adapun dalil yang menghalalkan pemberian sedekah dari Bani Hasyim ke Bani Hasyim, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Hakim:
ان العباس بن عبد المطلب قال: قلت يا رسول الله إنك حرمت علينا صدقاة الناس ، هل تحل صدقاة بعضنا لبعض ؟ قال: نعم
Ertinya: Abbas bin Abdul Mutholib berkata: "saya berkata kepada Rasulullah SAW; wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau mengharamkan sedekah manusia untuk kami, apakah engkau menghalalkan sedekah yang diberikan dari kami untuk kami? Rasulullah berkata: ya."

Dalam kitab Fiqah Hanafiah yang berjudul Majmak Al-Anhar, berkata Imam Hanafi: tidak mengapa mencampuradukan semuanya (sedekah wajib dan sedekah sunnah) dan memberikannya kepada mereka. Di lain riwayat Imam Hanafi berkata: boleh memberikan zakat kepada mereka.

Sedangkan Imam Muhammad mengatakan mereka boleh menerima sedekah, dikarenakan pengharaman untuk menerima sedekah kepada mereka hanya berlaku pada zaman Rasulullah masih hidup. Dan dalam kitab Dar Al-Muntaqo, beliau berpendapat bahwa Bani Hasyim boleh menerima zakat pada zaman setelah Rasulullah SAW.

Syeikh Al-Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan: Bani Hasyim boleh menerima zakat yang dikeluarkan oleh Bani Hasyim.

Imam Ja'far Al-Shaddiq berkata: "sesungguhnya Allah SWT telah menjadikan fuqara dan aghniya (orang-orang kaya) bersekutu di dalam memiliki harta kekayaan, maka tidak dibenarkan mereka (orang-orang kaya) membelanjakan harta kepada selain sekutunya (para fuqara)."

Muhammad Abduh Yamani berkata: jika keluarga Rasul SAW tidak boleh menerima zakat dan dengan menerima sedekah atau zakat mereka berdosa, sebenarnya yang berdosa itu adalah orang-orang kaya yang tidak peduli akan hak-hak keluarga Rasul SAW yang telah disebutkan dalam Al Quran dan ditetapkan dalam hadits-haditsnya.
Rasulullah SAW bersabda:
انّ الله فرض على أغنياء المسلمين فى اموالهم بقدرالّذي يسع فقراءهم, ولن يّجهد الفقراء اذا جاعوا او غروا الاّبما يصنع اغنياؤهم, الا وانّ الله يحاسبهم حساباشديد, ويعذّبهم عذابا اليما
artinya: sesungguhnya Allah SWT mewajibkan atas semua orang kaya muslimin mengenai harta mereka agar mengeluarkan zakat sekedar untuk melapangi orang-orang fakir mereka, sehingga orang fakir tidak kelaparan atau kesulitan, kecuali karena sikap orang-orang kaya mereka (tidak mau mengeluarkan zakat). Ketahuilah, bahwa Allah akan memperhitungkan harta mereka itu dengan ketat (di akhirat) dan akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih.

Imam Ja'far Al-Shaddiq berkata:
"sesungguhnya Allah SWT telah mencukupi bagi fukara' harta yang dapat mencukupi hidup mereka di dalam harta orang-orang kaya. Jika Allah SWT tahu hal itu tidak akan mencukupi, tentu Allah SWT akan menambahnya. Mereka menjadi fukara' bukan karena tidak ada bagian dari Allah SWT untuk mereka, tetapi karena orang-orang (kaya) itu tidak mau memberikan hak para fukara' tersebut. Seandainya setiap orang (kaya) menunaikan kewajiban mereka, maka mereka (para fukara') akan hidup dengan baik".

Berdasarkan riwayat di atas menunjukkan dengan jelas bahwa kefakiran datangnya dari bumi, bukan dari langit, dari kezaliman manusia (orang kaya yang tidak mau mengeluarkan zakat) yang satu terhadap yang lain (orang miskin), bukan dari Allah Yang Maha Agung dan Maha Bijaksana.

Terhadap orang kaya yang enggan mengeluarkan zakat, Allah SWT berfirman dalam surat Al-Taubah ayat 34-35 yang artinya:
“Dan orang-orang yang menyimpan (harta) emas dan perak, dan tidak membelanjakannya untuk kepentingan Agama Allah , maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) azab yang pedih. Pada hari itu dipanaskan semua (harta) emas dan peraknya itu dalam neraka jahanam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: ‘inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.'

Mengenai orang-orang yang merasa berat untuk mengeluarkan hartanya dijalan Allah SWT (berzakat), Rasulullah SAW bersabda:
“Siapa yang telah dikarunia Allah SWT harta, tetapi tidak dibayarkan zakatnya, maka hartanya itu nanti akan dirupakan pada hari kiamat sebagai seekor ular yang siap melahap orang tersebut, dengan perkataan ancaman: ‘sayalah simpanan dan hartamu dahulu.'

Salah satu nasehat Nabi SAW yang disampaikan kepada kaum Muhajirin, bahwa kalau tidaklah karena rasa belas kasihan Allah SWT kepada binatang, maka Allah SWT tidak akan menurunkan hujan yang disebabkan keengganan orang-orang kaya dalam mengeluarkan harta. Jadi menurut hadits ini orang-orang kaya yang tidak mau mengeluarkan zakat mempunyai saham atas kekeringan yang terjadi di seluruh dunia dan indonesia khususnya. Sadar dan pikirkanlah wahai para orang kaya!

5. BOLEHKAN KELUARGA RASULULLAH MENERIMA SEDEKAH, SETELAH KHUMUS TIDAK ADA LAGI?
Imam Ja'far Al-Shaddiq berkata: "ketika Allah SWT mengharamkan sedekah bagi kami maka Allah SWT menurunkan khumus untuk kami. Sedekah haram bagi kami, tetapi khumus adalah hak kami."


Menurut sebagian ulama Malikiah: dimungkinkan untuk memberi hak Bani Hasyim dari Baitul Mal, dimana jika tidak diberikan akan menjadikan mereka orang-orang yang faqir. Dan memberikan hak Bani Hasyim dari Baitul Mal lebih utama daripada memberikannya kepada selain mereka.

Sebagian lagi berpendapat bahwa kebolehan pemberian tersebut dikarenakan darurat, yaitu sekedar diperbolehkannya manusia memakan bangkai dalam keadaan darurat. Artinya, mereka tetap diharamkan untuk menerima sedekah, kecuali dalam keadaan darurat maka mereka boleh menerimanya.

Berkata Abu Said Al-Asthakhri Al-Syafii: sesungguhnya ketiadaan hak mereka dari khumus, membolehkan pemberian sedekah kepada mereka, dikarenakan mereka diharamkan menerima zakat dan hak mereka ada pada khums al-khumus. Jika tidak ada yang diberikan kepada mereka dari khumus, maka wajib memberikan zakat kepada mereka. Berkata Al-Nawawi dari Al-Rafii: sesungguhnya Imam Al-Ghazali memberikan fatwa yang sama.

Ibnu Taimiyah dan Al-Qadhi Ya'kub Al-Hanabilah menjelaskan kebolehan mengambil dari zakat manusia, jika tidak ada khumus ghanimah dan fa'i. Sesungguhnya hal tersebut untuk memenuhi hajat yang darurat.

Akan tetapi jumhur ulama masih belum bersepakat mengenai kebolehan pemberian zakat kepada Bani Hasyim walaupun tidak ada khumus. Mereka berdalil bahwa zakat diharamkan untuk mereka karena kemuliaan mereka yang merupakan kemuliaan Rasulullah SAW. Pengharaman tersebut berlaku walaupun tidak ada khumus.

Sebagaimana kita membaca bahwa pemberian zakat untuk keluarga dekat Rasulullah dalam zaman sekarang berdasarkan pembahasan terdahulu, diperbolehkan. Hal itu disebabkan tidak ada lagi hak mereka dari 1/5 bagian ghanimah dan fa'i, dimana hak tersebut selalu diberikan pada zaman Rasulullah SAW sebagai pengganti dari Allah dikarenakan mereka diharamkan untuk menerima sedekah.

Bagian Dzawil Qurba telah disebutkan dalam Al Quran:
وَاعْلَمُوْا أَنَّمَا غَنِمْتُمْ مِّن شَيْءٍ فَأَنَّ لِلّهِ خُمُسَهُ وَ لُلْرُسُولِ وَ لِذِى الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِيْنِ وَابْنِ السَبِيْلِ
artinya: ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang (ghanimah), maka sesungguhnya 1/5 untuk Allah, Rasul, kerabat rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnu sabil.

Dan firman Allah SWT:
مَّا أَفَاءَ الله عَلَى رَسُولِهِ مِنْ أَهْلِ الْقُرَى فَلِلّهِ وَ لِلْرُّسُولِ وَ لِذِى الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِيْنِ وَابْنِ السَبِيْلِ , كَيْلاَ يَكُونَ دُولَةَ بَيْنَ الأغْنِيَاءِ مِنْكُمْ
artinya: apa saja harta rampasan (fa'i) yang diberikan allah kepada rasul-nya yang berasal dari kota-kota maka adalah untuk allah, rasul, kerabat rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnu sabil, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.

Menurut pendapat Yusuf Al-Qardhawi, yang mengatakan bahwa zakat diharamkan atas mereka dikarenakan kemuliaan mereka, tidaklah kuat, hal itu terutama disebabkan pemberian zakat kepada mereka untuk membantu mereka. Sedangkan gugurnya pengganti dari bagian dzawil qurba dikarenakan beberapa alasan, yaitu ketiadaan baitul mal, keputusan hakim yang mengharamkan pemberian zakat kepada mereka atau diperbolehkan karena alasan darurat.

Banyak ulama yang berpendapat bahwa bagian dzawil qurba dari baitul mal gugur setelah wafatnya Rasulullah SAW, begitu pula yang dilakukan pada zaman khalifahnya, dimana bagian dzawil qurba tersebut dipergunakan untuk berjihad menyebarkan agama Islam. Selanjutnya para ulama membolehkan kerabat rasul menerima zakat.
Selanjutnya Yusuf al-Qardhawi berkata: mengenai pendapat yang terdapat dalam beberapa hadits yang dijadikan dalil oleh jumhur ulama akan keharaman zakat untuk Bani Hasyim dan Bani Mutholib hingga hari kiamat, bahkan menjadikan maula Bani Hasyim sama kedudukannya dengan mereka dalam hukum adalah pendapat yang tidak jelas. Yang benar adalah dalam mengeluarkan pendapat terhadap hadits-hadits tersebut harus menolak rasa ashobiyah dan mengikutinya tanpa memikirkannya terlebih dahulu.

Menurut Yusuf al-Qardhawi, harus ada penjelasan terhadap hadits-hadits Rasulullah mengenai keharaman keluarganya dalam menerima sedekah. Menurutnya hadits yang berbunyi: إن الصدقة لا تنبغي لا ل محمد menunjukkan bahwa perbuatan itu dibenci dan diusahakan untuk tidak dilakukan. Menurutnya, banyak ulama madzhab yang membolehkan keluarga Rasulullah SAW menerima zakat. Hal itu disebabkan Bani Hasyim yang menjadi amil zakat berhak menerima bagiannya dalam zakat tersebut. Sesungguhnya keluarga Rasulullah SAW baik yang dekat maupun yang jauh dalam hal keharaman mereka menerima sedekah bukanlah dikarenakan kemuliaan nasab, tetapi untuk memberikan contoh kepada manusia bahwa mereka bukanlah orang yang tamak. Jika hal itu disebabkan karena kemuliaan nasab, maka maula mereka tidak akan dimasukkan ke dalam orang-orang yang diharamkan menerima sedekah.

Seorang amil hendaknya bukan dari kalangan Bani Hasyim, sebab zakat dari selain Bani Hasyim tidak halal bagi Bani Hasyim. Imam Ja'far Al-Shaddiq berkata: orang-orang dari Bani Hasyim datang kepada Rasulullah SAW meminta kepada baginda agar mempekerjakan mereka pada zakat ternak. Mereka berkata, ‘agar kami mendapat bagian yang Allah tentukan bagi para amil. Kami lebih berhak untuk itu'. Maka Rasulullah SAW berkata: wahai Bani Abdul Muthalib ! Sesungguhnya zakat tidaklah halal bagiku dan tidak juga bagi kalian. Akan tetapi aku telah dijanjikan untuk memberi syafaat'. Dengan demikian, zakat tersebut tidak halal bagi mereka walaupun sebagai imbuhan atas jerih payah mereka.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Hasan bin Ali berkaitan dengan sabda Rasulullah SAW: لا تحل لنا الصدقة, hal tersebut bukan saja ditujukan kepada keluarga Rasulullah SAW tetapi juga kepada para pemimpin kaum muslimin saat itu, sebagaimana diriwayatkan bahwasanya Umar bin Al Khotob minum susu dari pemberian sedekah, maka ia memuntahkan kembali susu tersebut.

Suatu saat Umar bin Al Khottob diberi sesuatu, beliau menolaknya, akan tetapi Rasulullah bersabda:
يا عمر إذا اتاك الله شيئا من هذا المال من غير مسألة فخذه فإن كنت محتاجا إليه فتموّله وان لم تكن محتاجا إليه فاصرفه إلى غيرك
artinya: wahai Umar, jika Allah memberimu harta padahal kamu tidak memintanya, maka terimalah. Jika kamu membutuhkannya, gunakanlah. Jika kamu tidak membutuhkannya, berikanlah kepada orang lain.

Mengenai etika pemberian sedekah/zakat kepada yang berhak, Imam Muhammad Al-Bagir pernah ditanya bahwa salah satu orang merasa malu untuk menerima zakat yang menjadi haknya. Beliau menjawab: "berilah, dan tidak usah kau sebutkan bahwa itu adalah zakat, dan janganlah kau menghinakan seorang muslim."

Habib Alwi bin Tohir Al-Haddad dalam kitab Al-Qaul Al-Fashlu berpendapat bahwa keharaman menerima zakat bagi keluarga Rasulullah SAW disebabkan untuk membersihkan kedudukan mereka dan mensucikan dzat mereka sebagai Ahlul Bait, dikarena zakat merupakan kotoran manusia yang dikeluarkan untuk membersihkan harta mereka.

6. BATAS YANG DIPERBOLEHKAN SEORANG MENERIMA ZAKAT ATAU SEDEKAH!
Para ulama berbeda pendapat mengenai batas kecukupan yang memperbolehkan seseorang menerima zakat atau sedekah, diantaranya adalah cukup untuk makan sehari semalam. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Sahl bin Al-Hanzhaliyyah, bahwa: "Rasulullah SAW melarang meminta-minta bagi siapa yang berkecukupan". Ketika ditanya tentang batas kecukupan itu, beliau menjawab: "yang cukup untuk makan siang serta makan malamnya".

Sebagian ulama mengatakan bahwa seorang mustahiq boleh mengambil dari uang zakat sebatas yang mencapai nisab zakat. Hal ini mengingat bahwa Allah SWT tidak mewajibkan zakat kecuali atas diri orang-orang yang berkecukupan, yakni yang memiliki lebih dari nisab. Karena itu ia boleh mengambil untuk dirinya sendiri dan untuk setiap orang anggota keluarga yang menjadi tanggungannya, sampai sebatas nisab untuk masing-masing orang.

Imam Ja'far Al-Shaddiq berkata: "zakat haram hukumnya bagi orang yang mempunyai biaya hidup satu tahun, dan orang yang memiliki biaya hidup setahun ini wajib mengeluarkan zakat fithrah". Beliau ditanya tentang seorang yang mempunyai biaya makan untuk sehari, apakah dia boleh menerima zakat? Beliau menjawab: "orang tersebut boleh mengambil dari zakat, sekedar yang dapat mencukupi hidupnya untuk satu tahun, walaupun saat itu dia mempunyai biaya hidup untuk satu bulan, sebab zakat ialah dari tahun ke tahun".

Adapun mengenai batas sampai ‘kecukupan untuk makanan sehari semalam' adalah berkaitan dengan tidak disukainya perbuatan meminta-minta atau kebiasaan mengemis dari pintu ke pintu. Yakni, orang yang masih memiliki makanan untuk sehari semalam, hendaknya tidak meminta-minta dengan mendatangi pintu-pintu rumah orang lain. Sebab yang demikian itu adalah perbuatan yang sangat tidak disukai dalam agama. Ibnu Mas'ud meriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda: من سأل وله مال جاء يوم القيامة وفىوجه خموش
artinya: barangsiapa meminta-minta sedangkan ia memiliki harta yang mencukupi, kelak pada hari kiamat ia akan datang dengan wajah yang penuh noda.

Dari Abu Daud dan Ibnu Hibban dalam sahihnya, Rasulullah SAW bersabda:
من سأل وله ما يغنيه فانّما يستكثر من النار
artinya: barangsiapa meminta sedangkan ia memiliki apa yang mencukupi, maka sesungguhnya ia telah memperbanyak bara api jahanam bagi dirinya sendiri.

Diriwayatkan dari Ibnu Umar, Rasulullah SAW bersabda:
لا يزال الرجل يسأل الناس حتّى يأتي يوم القيامة وليس في وجهه مزعة لحم
artinya: orang yang senantiasa minta-minta pada orang-orang hingga hari kiamat, maka pada mukanya tidak ada daging sekerat pun.

Diriwayatkan dari Samurah bin Jundab, Rasulullah SAW bersabda:
المسألة كدّ يكدّ بها الرّجل وجهه
artinya: minta-minta itu suatu garutan seseorang terhadap mukanya sendiri.

Diperbolehkan meminta-minta, jika seseorang dalam keadaan sangat miskin, sakit keras, dan hutangnya mencekik, sebagaimana hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan dari Qubaishoh:
لا يحلّ السؤال الاّ لثلاثة ذي فقر مدقع او دم موجّع او غرم مغظع
artiya: tidak halal (haram) meminta-minta kecuali karena 3 sebab, yaitu: orang yang sangat miskin, orang yang sakit keras dan orang yang mempunyai hutang mencekik.

Kebanyakan para fuqaha mengatakan bahwa seorang yang mampu bekerja mencari wang tidak boleh diberi zakat, sebab dia dianggap kaya. Imam Muhammad Al-Bagir berkata: "sedekah tidak halal untuk orang yang mampu bekerja, dan tidak juga untuk orang yang sehat jasmani yang mampu menanggung jerih payah kerja".

Di kalangan ulama Syafiiyah terdapat 2 jenis peminta(pengemis) iaitu:
1) Peminta yang masih mampu bekerja mencari nafkah. Orang semacam ini haram meminta-minta.
2) Peminta yang makruh (dibenci), iaitu yang memenuhi 3 syarat: bahwa dia tidak menghina dirinya dengan meminta-minta, dia tidak merengek-rengek/memaksa dalam meminta, dia tidak menyakitkan hati orang yang dimintai. Jika dari 3 syarat ini tidak terpenuhi, maka ulama syafiiyah sepakat mengharamannya.

Sebagai penutup pembahasan tentang boleh atau tidaknya menerima zakat, semua tergantung kepada penerima zakat itu sendiri, karena yang dapat menentukan dia boleh atau tidak menerima zakat hanyalah dirinya sendiri, sebagaimana hadits Rasulullah SAW:
استفت قلبك وإن أفتوك وأفتوك
artinya: mintalah fatwa(pendapat, keputusan) dari hati nuranimu sendiri, apapun yang difatwakan kepadamu oleh orang lain.

Diriwayatkan dari Hakim bin Hizam, Rasulullah SAW bersabda:
اليد العليا خير من اليد السّفلى … ومن يستعفف يعفّه الله ومن يستغن يغنهالله.
Artinya: tangan di atas (pemberi) lebih baik dari tangan di bawah (penerima). Barangsiapa yang mampu menjaga diri (dari meminta-minta), maka Allah akan menjaga dirinya, dan barangsiapa yang merasa cukup (puas dengan apa yang ada tanpa meminta-minta), niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. 

Jumaat, 27 Jun 2014

KEUTAMAAN DZAT AHLULBAIT (BAB 2)

KEUTAMAAN DZAT DALAM PENCIPTAAN MAKHLUK ALLAH SWT


ALLAH SWT MENCIPTAKAN MUHAMMAD SAW DAN KETURUNANNYA DARI TANAH ARSY.

Diriwayatkan bahwasanya Nabi Adam AS pernah mendengar tasbih dari Nur Rasulullah SAW di tulang punggungnya seperti bunyi burung mengibas-ngibaskan sayapnya. Dan ketika Siti Hawa mengandung puteranya Syits, nur itu berpindah kepada Siti Hawa, kemudian kepada Syits pula. Kemudian nur itu seterusnya berpindah-pindah dari satu sulbi yang suci ke sulbi yang lain dan dari satu rahim yang bersih ke rahim yang lain, hingga Rasulullah SAW dilahirkan dari kedua ibunya Siti Aminah dan bapanya Abdullah yang mulia itu, tiada disentuh sedikitpun kenistaan atau kecemaran kaum jahiliyah.
Nabi SAW bersabda:
خَرَجْتُ مِنْ نِكَاحٍ ولَمْ أَخْرُجْ مِنْ سِفَاحٍ
"aku dilahirkan dari nikah, dan tidak pernah dilahirkan dari zina".

Di lain riwayat Imam Jaafar pernah ditanya: “wahai cucu Rasulullah dimanakah kalian berada sebelum Allah SWT menciptakan langit dan bumi”. Berkata Imam Jaafar: “nur kami terbentang di sekitar Arsy, Allah SWT mensucikannya selama 15 ribu tahun sebelum diciptakannya Adam. Maka ketika Adam diciptakan, nur tersebut dipindahkan ke sulbinya, dan tidaklah perpindahan itu keluar dari sulbi yang suci ke rahim yang disucikan, hingga Allah SWT membangkitkan Muhammad SAW.

Al-Abbas, bapa saudara Rasulullah SAW membuat serangkai sajak yang memuji baginda, di antaranya:
مِنْ قَبْلِهَا طِبْتَ فِى الظِلاَلِ وَفِى , مُسْتَوْدَعٍ حِيْنَ يُخْصَفُ الوَرَقُ
ثُمَّ هَبَطْتَ البِلاَدَ لاَ بَشَرٌ أنْتَ , وَلاَ مُضْغَةٌ وَلاَ عَلَقٌ
بَلْ نُطْفَةٌ تَرْكَبُ السَفِيْنَ وَقَدْ, الجَمَ نَسْرًا وَ أهْلُهُ الغَرَقُ
تُنْقَلُ مِنْ صَالِبٍ إلَى رَحِمٍ, إذَا مَضى عَالَمٌ بَدَا طَبَقُ
Sebelum itu wujudmu telah sempurna di dalam naungan
dalam tempat simpanan. Ketika tubuh insan terbungkus dedaunan
lalu engkau turun ke bumi, bukan dalam rupa manusia
bukan pula segumpal darah, ataupun segumpal daging
bahkan masih nutfah, bersama nuh dalam bahteranya
menempuh banjir besar yang menenggelamkan berhala
nasr dan para penyembahnya.
Engkau terus berpindah-pindah dari sulbi kepada rahim
Apabila suatu alam hilang yang lain pun tumbuh berganti
dan kemudian ia berkata:
حَتَّى احْتَوى بَيْتُكَ المُهَيْمِنُ مِنْ, خَنْدَفٍ عَلَيَاءَ دُوْنَهَاالنُطْقُ
Hingga engkau ditempatkan dalam kandungan yang penuh keberkahan
dari seorang ibu yang bernasab tinggi, kesuciannya tidak diragukan.

Perpindahan Nur Muhammad dari sulbi Para Nabi diabadikan dalam Al Quran surat Al-Syura ayat 218, yang berbunyi:
الَّذِي يَرَاكَ حِيْنَ تَقُومُ وَتَقَلُّبَكَ فِى السَّاجِدِيْنَ
"dia yang memperhatikan engkau ketika berdiri, dan perpindahanmu di antara orang-orang yang (biasa) sujud".

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas: bahwa yang dimaksud dengan 'perpindahanmu di antara orang-orang yang sujud' yaitu berpindah-pindahnya Nur Muhammad SAW dari sulbi seorang nabi ke sulbi nabi yang lain, seperti Adam, Syits, Nuh, Ibrahim, Ismail, dan hal ini tiada syak dan tiada diragukan lagi.

Dari Ibnu Abbas, bersabda Rasulullah SAW: Allah SWT menempatkan nurku di bawah Arsy sebelum Adam diciptakan selama 12 ribu tahun. Maka ketika Allah SWT menciptakan Adam, diletakkan nur tersebut ke sulbi Adam, selanjutnya nur tersebut berpindah dari sulbi ke sulbi, hingga kami berpisah di sulbi Abdullah bin Abdul Muthalib dan sulbi Abi Thalib. Maka Allah SWT menciptakan aku dari nur tersebut akan tetapi tidak ada lagi Nabi sesudahku.

Imam Jaafar Al-Shadiq pernah ditanya mengenai maksud kalimat 'perpindahanmu di antara orang-orang yang sujud'? Beliau menjawab: 'diperhatikannya perpindahan Nur Muhammad dari sulbi Para Nabi, hingga ia dikeluarkan melalui sulbi ayahnya dengan pernikahan yang tidak tercemar sedikitpun oleh kekotoran'.

Dalam kitab Al-Ghuror karangan Al-Imam Muhammad bin Ali bin Alwi Al-Khirrid diriwayatkan bahwa Nur Muhammad telah diciptakan 12 ribu tahun sebelum diciptakan Nabi adam. Kemudian Allah menciptakan Adam dan memindahkan nur itu ke dalam sulbi Adam, dari sulbi Adam berpindah ke sulbi Nuh, sulbi Ibrahim hingga akhirnya sampai ke sulbi Abdul Muthalib. Kemudian nur tersebut terbagi menjadi 2, 2/3 bagian berada di sulbi Abdullah yang melahirkan Rasulullah, dan 1/3 bagian berada di sulbi Ali bin Abi Thalib. Dari Rasulullah, nur tersebut berpindah kepada Fathimah. Dari nur yang berada pada Ali bin Abi Thalib dan Siti Fathimah maka lahirlah Al-Hasan dan Al-Husein yang diciptakan dari Nur Muhammad, Nur Allah SWT.

Dari Ibnu Fari, ia berkata: sesungguhnya makhluq yang pertama diciptakan oleh Allah SWT itu adalah Nur Muhammad, sebagaimana hadits:
أَوَّلُ مَا خَلَقَ الله تَعَالَى نُوْرِي
"sesungguhnya yang pertama dijadikan Allah SWT ialah cahayaku".

Selanjutnya Allah berfirman: 'hai Nur Muhammad, sujudlah engkau kepada-Ku selama 10 ribu tahun. Kemudian cahayaku itu sujud kepada Allah SWT selama 10 ribu tahun lamanya. Kemudian Allah berfirman: hai Nur Muhammad, bangkitlah engkau dengan firmanku, maka cahayaku itu bangkit dari tempat sujudnya'.

Sesungguhnya dari cahayaku itu kemudian Allah SWT menjadikan seekor burung yang sangat indah bentuknya. Maka dari kepala burung itu diciptakan Ali bin Abi Thalib, dari lehernya diciptakan Siti Fathimah Al-Zahra, dari mata kanannya diciptakan Imam Hasan dan dari mata kirinya diciptakan Imam Husein.

Dalam kitab Syajarah Al-Kaun karangan Ibnu Arabi dijelaskan bahwa jari jemari pada setiap tangan dan kaki jumlahnya lima, demikian pula sendi-sendi Syariat Islam, di mana Rukun Islam ada 5. Rasulullah SAW bersabda:
'Islam didirikan di atas 5 perkara, Syahadat bahwa Tiada Tuhan Selain Allah dan Muhammad Adalah Utusan Allah, mendirikan shalat, memberikan zakat, pergi haji ke Baitullah dan puasa ramadhan.'

Sementara 5 yang ke 2 adalah Shalat Fardhu yang jumlahnya 5, sedangkan 5 yang 3 adalah zakat yang pada nisabnya juga 5, 5 yang ke 4 adalah Rasulullah SAW bersama Para Sahabat pendukungnya, yaitu Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali. Adapun 5 yang ke 5 adalah Ahlul Bait, mereka adalah Muhammad SAW, Ali, Fathimah, Hasan dan Husein.

Diriwayatkan bahwa dalam peristiwa Mi'raj, terjadi dialog antara Nabi Muhammad SAW dengan para malaikat tentang penciptaan keluarga Rasulullah SAW dan kecintaan para malaikat kepada Rasullah SAW, sebagai berikut:
Nabi SAW: "wahai para malaikat Tuhanku, apakah engkau benar-benar mengenal kami (Ahlul Bait)?"

Malaikat: "wahai Nabi Allah, bagaimana kami tidak mengenal kalian (Ahlul Bait) sedangkan engkau adalah makhluq pertama yang diciptakan Allah SWT. Kalian telah dijadikan berupa cahaya yang berasal dari cahaya-Nya, cahaya kemuliaan-Nya, cahaya kebesaran-Nya. Dan dijadikan pula bagimu kedudukan di antara Alam Malakut dan Arsy-Nya sebelum terciptanya langit dan bumi."

"Kemudian dijadikan langit dan bumi dalam 6 hari, sesudah itu diangkatNya Arsy sampai langit ke 7, maka bersemayam di atas Arsy-Nya dan kalian berada di depan Arsy-Nya dalam keadaan disucikan dan diagungkan, kemudian dijadikan malaikat pertama dari nur yang telah terbagi-bagi. Dan kami adalah bagian dari kalian (Ahlul Bait) yang selalu bertasbih, bertahmid, bertahlil, bertakbir, maka kami pun selalu bertasbih, bertahmid, bertahlil dan bertakbir dengan tasbih, tahmid, tahlil dan takbir kalian. Maka apa saja yang diturunkan dan ditambahkan oleh Allah kepada kalian, maka kami pasti mengenalnya."

Kemudian Nabi SAW Mikraj langit ke 7 dan ketika para malaikat melihat Nabi SAW, terdengar suara para malaikat berkata: 'Maha Suci Allah Yang Benar Janjinya'. Kemudian para malaikat menemui Nabi dan memberi Salam.

Nabi SAW: "wahai para malaikat Tuhanku, saya mendengar kalian berkata 'Maha Suci Allah Yang Benar Janjinya', mengapa demikian?"

Malaikat: wahai Nabi Allah, sesungguhnya Allah SWT ketika menciptakan cahaya dari cahaya kemuliaan-Nya dan kebesaran-Nya, dan dijadikan bagimu kedudukan di alam Malakut yang merupakan kekuasaan kalian atas kami, cahaya yang meneguhkan hati kami. Oleh sebab itu kami mengadu kepada Allah akan cinta kami kepadamu, maka Allah menepati janjiNya dengan memperlihatkan engkau kepada kami di langit ini. Itulah sebabnya kami berkata demikian.

Dari Muadz bin Jabal, bersabda Rasulullah SAW: sesungguhnya Allah telah menciptakan Aku, Ali, Fathimah, Hasan dan Husein, 7 ribu tahun sebelum Allah menciptakan dunia. Aku (Muadz bin Jabal) bertanya: dimanakah selama itu engkau berada. Nabi menjawab: di Arsy, dimana Allah swt bertasbih memuji, mensucikan serta mengagungkannya.

Ali, Fathimah, Hasan dan Husein, mereka adalah 'Aal Muhammad' yang telah disucikan, sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Ahzab ayat 33:
إِنَّمَا يُرِيْدُ الله لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِجْسَ أَهْلَ البَيْتِ وَ يُطَهِّرَ كُمْ تَطْهِيْرًا
"sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan kotoran (rijs) dari kalian hai Ahli Al-Bait, dan hendak mensucikan kalian sesuci-sucinya".

Yusuf bin Ismail Al-Nabhani dalam kitabnya 'Al-Saraf Al-Muabbad li Aali Muhammad' berkata:
"betapa tidak, mereka itu adalah orang-orang yang mempunyai hubungan silsilah dengan Rasulullah. Mereka itu seasal dengan beliau, yakni silsilah yang menurunkan beliau dan juga menurunkan orang-orang yang dekat dengan beliau. Tidak diragukan lagi, bahwa mencintai beliau SAW adalah wajib bagi setiap orang yang bertauhid. Adapun tebal-tipisnya kecintaan seseorang kepada Rasulullah SAW merupakan ukuran tentang tebal-tipisnya keimanan yang ada pada orang itu. Orang yang mengaku beriman, tetapi ia tidak mencintai Rasulullah SAW, sama artinya dengan berdusta, bahkan layak disebut munafik. Kecintaan kepada Rasulullah SAW membawa perkaitan wajib mencintai keluarga baginda SAW, yakni Ahli Al-Bait, kaum kerabat dan segala keturunan anak cucu baginda SAW".

Hal tersebut sesuai dengan Hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Ahmad, Turmudzi, Nasai dan Al-Hakim dari Al-Muthallib bin Rabi'ah, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:
وَاللهِ لاَ يَدْخُلُ فَلْبَ امْرِئٍ مُسْلِمٍ (إِيْمَانٌ) حَتَّى يُحِبُّكُمْ لله وَ لِقَرَابَتِى
"demi Allah, Iman tidak akan masuk ke dalam hati seorang muslim sehingga ia mencintai kalian (keluarga Nabi SAW) karena Allah dan karena hubungan keluarga denganku".

Di samping itu terdapat pula hadits yang memerintahkan kepada Umat Islam untuk mencintai Rasulullah SAW dan keluarganya seperti yang diriwayat oleh Turmudzi, Thabrani dan Al-Hakim dari Ibnu Abbas, Rasulullah SAW bersabda:
اَحِبُّوا الله لِمَا يَغْدُوْكُمْ بِهِ مِنْ نِعَمِهِ وَاَحِبُّوْنِى لِحُبِّ اللهِ , وَاَحِبُّوا اَهْلَ بَيْتِى لِحُبِّىْ
"cintailah Allah karena nikmat-nikmat yang telah dianugerahkan-nya, dan cintailah aku karena kecintaan (kamu) kepada Allah, serta cintailah Ahlu Al-Baitku karena kecintaan (kamu) kepadaku".

Anak cucu keturunan Rasulullah SAW merupakan keberkahan bagi Umat Islam. Mereka selalu ada pada tiap zaman, sebab dengan keberadaan mereka itu Allah SWT menghindarkan umat manusia dari malapetaka. Kecuali jika umat manusia sudah memilih jalannya sendiri yang sesat menuju kehancuran. Keturunan Rasulullah ibarat cahaya bintang yang menunjuk arah bagi bahtera yang sedang berlayar di tengah samudera dalam keadaan gelap gulita. Thabrani meriwayat hadits dalam kitab Al-Ausath dari Abu Said Al-Khudri, ia berkata Rasulullah SAW bersabda:
اِنَّمَا مَثَلَ اَهْلِ بَيْتِىْ مِثْلُ سَفِيْنَةِ نُوْحٍ مَنْ رَكِبَهَا نَجَا وَمَنْ تَخَلَّفَ عَنْهَا غَرِقَ, وَ اِنَّمَا مَثَلَ اَهْلِ بَيْتِىْ فِيْكُمْ, مَثَلَ بَابِ حِطَّةٍ فِى بَنِى اِسْرَائِيلَ مَنْ دَخَلَهَا غُفِرَ لَهُ
"perumpamaan (kedudukan) Ahlu Al-Baitku seperti bahtera Nuh. Barang siapa menaikinya dia akan selamat dan barang siapa meninggalkannya dia akan tenggelam. Dan perumpamaan Ahlu Al-Baitku di antara kamu seperti pintu pengampunan di antara Bani Israil, barang siapa memasukinya maka dosa-dosanya akan diampuninya".

Orang yang hidup sezaman dengan mereka dan dengan kata-kata indah menyatakan kecintaan kepada mereka, tetapi tidak disertai perbuatan nyata, pernyataannya hanya kosong belaka, hampa dan tak berarti apa-apa, semua itu tidak membawa arti apa-apa. Akan tetapi lebih celaka lagi orang yang gemar mengungkit-ungkit mereka dengan lisan atau tulisan dan dengan tangan atau mata melakukan perbuatan untuk mengurangi dan merendahkan martabat mereka karena kebencian atas keutamaan yang mereka dapatkan dari Allah SWT. Dapat dipastikan bahwa orang tersebut akan masuk neraka, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Thabrani, Al-Hakim dari Ibnu Abbas, Rasulullah SAW bersabda:
فَلَوْ اَنَّ رَجُلاً صفَنَ بَيْنَ الرُّكْنِ وَالمَقَامِ, وَصَلَّى وَصَامَ, ثُمَّ مَاتَ , وَهُوَ مُبْغِضٌ لاِهْلِ بَيْتِ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ (وَآلِهِ) وَسَلَّمَ دَخَلَ النَّارَ
"…maka sekiranya seseorang berdiri di antara salah satu sudut ka'bah dan Maqam Ibrahim, lalu ia shalat dan puasa, kemudian meninggal sedangkan ia adalah pembenci keluarga (Ahlu Al-Bait) Muhammad, pasti ia masuk neraka".

Orang yang mengakui dirinya mencintai Rasulullah SAW tetapi bersamaan dengan itu ia merusak citra dan martabat Ahlu Al-Bait beliau, jelas ia adalah orang yang sangat jauh menyeleweng dari jalan agama. Mereka adalah golongan yang tidak mengerti, termakan oleh ajaran sesat, hingga terbenam di dalam semangat kebencian terhadap anak cucu keturunan Rasulullah. Mereka mentakwilkan ayat-ayat Al Quran dan Hadits Nabi yang berkaitan dengan keutamaan keluarga Muhammad SAW. Mereka menebak-nebak akar risalah, menduga-duga turunnya wahyu Ilahi dan mengira-ngira sumber hikmah. Dari bunyi harfiah ayat-ayat dan nash-nash hadits mereka menetapkan kesimpulan menurut pendapat dan selera mereka sendiri, yang sama sekali jauh dari kebenaran. Meskipun mereka telah berbuat sejauh itu, mereka masih juga mengaku cinta kepada Rasulullah saw. Mereka tidak sadar, bahwa dengan perbuatan itu mereka telah menyakiti hati beliau dengan berbagai macam tusukan.

Tidak diragukan lagi bahwa 'Aal Muhammad' yang dalam zaman kita sekarang ini terkenal dengan sebutan Kaum Alawiyin, merupakan orang-orang yang memiliki Fadhilah Dzatiyyah (keutamaan dzat) yang dikarunia Allah SWT kepada mereka melalui hubungan darah dengan insan pilihan-Nya. Sangat naif sekali anggapan yang menyamakan mereka dengan orang-orang dari keturunan lain, karena anggapan demikian itu sama artinya dengan menyamakan pribadi Rasulullah SAW dengan pribadi lain.

Fadhilah dzatiyyah yang mereka miliki bukan fadhilah yang dibuat-buat dan bukan berdasarkan fadhilah amalan baik mereka dan bukan pula atas keinginan mereka, melainkan telah menjadi qudrat dan iradat Ilahi sejak azal, yaitu sejak pertama kali Allah menciptakan keluarga Rasulullah dari Nur Muhammad SAW, di mana Nur Muhammad SAW tersebut dijadikan dari Nur Allah SWT.

Dari Hasan bin Ali berkata, aku mendengar datukku Rasulullah SAW bersabda:
خلقت مِنْ نُوْرِ الله عزَّ و جلَّ خلق أهْلَ نَيْتِي مِنْ نُورِي , خلق محبيهم مِنْ نُورِهم , و سَائر الخَلْقِ فِي النَارِ
"Aku dijadikan dari nur Allah Azza Wa Jalla, dan dijadikan Ahlu Al-Baitku dari nurku, dan dijadikan para pencinta mereka (Ahlu Al-Bait) dari nur mereka (Ahlu Al-Bait), sedangkan yang lainnya berada dalam neraka".

Dari Jaafar Al-Shaddiq, bersabda Rasulullah SAW: wahai Jabir, sesungguhnya Allah SWT, tidak ada Tuhan selain-Nya, awal pertama menciptakan makluq-nya adalah menciptakan Muhammad SAW, dan menciptakan Ahlu Al-Bait dari nur keagungan-Nya. Kemudian ditempatkan di bawah perlindungan-Nya, di mana pada saat itu belum ada langit, bumi, malam, siang, matahari, bulan dan semua tempat.

Diriwayatkan oleh Thabrani dalam kitabnya Al-Kabir, dari Ibnu Abbas, Rasulullah SAW bersabda:
فَإِنَّهُمْ عِتْرَتِي , خُلِقُوا مِنْ طِيْنَتِي , وَرُزِقُوا فَهْمِي و عِلْمِي , فَوَيْلٌ لِلْمُكَذِّبِيْنَ بِفَضْلِهِمْ مِنْ أمَّتِي الٌقَاطِعِيْنَ مِنْهُمْ صِلَتي لاَ أنْزَلَهُمُ الله شَفِاعَتِي
"…mereka adalah keturunanku dan diciptakan dari tanahku serta dikurniai pengertian dan ilmuku. Celakalah dari ummatku yang mendustakan keutamaan mereka, dan memutuskan hubungan denganku melalui (pemutusan hubungan dengan) mereka. Allah tidak akan menurunkan syafaatku kepada orang-orang seperti itu".

Tanah sebagai asal penciptaan Rasulullah dan keturunannya bukanlah tanah biasa yang dipijak setiap saat di bumi ini, akan tetapi tanah untuk penciptaan Rasulullah SAW dan keturunannya bersumber dari Arsy Allah SWT, di lain pendapat tanah tersebut bersumber dari Illiyin, hal ini disebutkan dalam beberapa riwayat diantaranya:

dari Abu Abdillah, Jaafar Al-Shaddiq, berkata:
إنَّ الله عزَّ و جلَّ خَلَقَ مُحَمَّدًا و عِتْرَتَهُ مِنْ طِيْنَةِ العَرْشِ
"sesungguhnya Allah telah menciptakan Muhammad dan keturunannya dari tanah arsy.

Dari AbduRahman bin Hajjaj, berkata:
إنَّ الله تَبَرَكَ وَ تَعَالَى خَلَقَ مُحَمَّدًا و آلَ مُحَمَّدٍ مِنْ طِيْنَةِ عِلِّيِينَ خَلَقَ قُلُوبَهُمْ مِنْ طِيْنَةِ فَوْقَ ذَالِك
"sesungguhnya Allah SWT menciptakan Muhammad dan keluarganya dari tanah Illiyin, dan menjadikan hati mereka dari tanah yang lebih tinggi dari tanah Illiyin".

Ketika Allah hendak menciptakan Muhammad, berfirman Allah kepada para malaikatnya: 'sesungguhnya aku ingin menciptakan makhluq yang akan aku utamakan dan muliakan dari semua makhluq, dan aku jadikan dia sebagai Nabi yang pertama dan terakhir, aku akan memberikan syafaat pada hari kiamat karena dia, jika bukan karena dia, tidak aku jadikan keindahan surga dan kekejaman neraka. Aku akan memuliakannya dengan kemuliaanku, dan mengagungkannya dengan keagunganku'. Berkata para malaikat: wahai Tuhan kami, tidak sekali-kali para hamba menentang Tuhannya, kami semua mendengar dan patuh kepada-mu. Maka Allah memerintahkan malaikat Jibril, Al-Shafi Al-A'la dan malaikat Arsy untuk mengambil tanah Rasulullah dari sumbernya, maka dijadikan baginda SAW dari tanah, dimatikan dan dikuburkan ke dalam tanah, dibangkitkan melalui tanah. Dari tanah itu, kemudian Jibril membawa dan membenamkannya di mata air Salsabil sehingga bersih seperti mutiara yang putih. Dari hari ke hari tanah tersebut dibenamkan ke semua mata air yang ada di surga, dan setelah diangkat keluarlah cahaya tanah tersebut, kemudian diperlihatkan kepada malaikat lainnya, para malaikat menyambutnya dengan sikap hormat dan memuliakannya. Ketika Jibril membawa tanah tersebut mengelilingi para malaikat, mereka berkata: wahai Tuhan kami, jika engkau perintahkan untuk sujud, maka kami akan sujud. Maka para malaikat sujud dan memuliakan tanah tersebut sebelum adam diciptakan.

Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri: ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah SAW, datanglah seorang lelaki berkata, ya Rasulullah beritahukanlah kepadaku tentang firman Allah SWT kepada iblis:
أَسْتَكْبَرْتَ اَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِيْنَ
"apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang lebih tinggi?" (shaad: 75)

Siapakah mereka Ya Rasulullah, orang yang lebih tinggi kedudukannya dari para malaikat? Rasulullah menjawab: Aku, Ali, Fathimah, Hasan dan Husein. Kami dijadikan sebagai kemah arsy, bertasbih para malaikat dengan tasbih kami 2 ribu tahun sebelum Allah menjadikan Adam. Dan ketika Allah SWT menjadikan Adam, diperintahkan kepada para malaikat untuk bersujud kepadanya, maka seluruh malaikat sujud kecuali iblis, mereka menolak untuk bersujud kepada adam, Berfirman Allah SWT: apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang lebih tinggi?

Dari Ali bin Abi Thalib, Rasullulah SAW bersabda:
يَا عَلِي, خَلَقَ الله النَاسَ مِنْ اَشْجَار شَتَّى, وَخَلَقَنِي وَ أَنتَ مِنْ شَجَرَة وَاحِدَةٍ, اَنَا أَصْلُهَا وأَنْتَ فَرْعُهَ, فَطُوْبَى لِعَبْدٍ تَمَسَّكَ بِأَصْلِهَ, وَ أَكَلَ مِنْ فَرْعِهَا
"wahai Ali, Allah telah menciptakan manusia dari berbagai jenis pohon, dan Allah menciptakan Aku dan kamu dari pohon yang satu, Aku pangkalnya dan kamu cabangnya, maka beruntung bagi hamba yang berpegang pada pangkalnya dan makan dari cabangnya".

Dari Jabir bin Abdillah Al-Anshari berkata: ketika aku dan Ali sedang berada di Arafah bersama Rasulullah SAW, beliau memanggil Ali: wahai Ali mendekatlah dan letakkanlah telapak tanganmu di atas telapak tanganku, setelah itu Rasulullah bersabda:
يَا عَلِي, خلقت أنَا وَ أَنْتَ مِنْ شَجَرَةٍ أنَا أصَلُهَا وَأنْتَ فَرْعُهَا وَالحَسَن وَالحُسَين أَغْصَانهَ, فَمَنْ تَعَلّق بِغُصْنٍ مِنْ أَغْصَانِهَا أَدْخَلَهُ الجَنَّةَ
"wahai Ali, aku dan kamu diciptakan dari satu pohon, aku pangkalnya dan kamu cabangnya, Al-Hasan dan Al-Husein rantingnya. Maka siapa yang bergantung dengan ranting dari ranting-ranting pohon itu, pasti masuk surga".

Dan ketika Allah SWT menciptakan Adam, terdengar dipunggungnya Tasbih dari Nur Muhammad seperti burung mengibaskan sayapnya. Berkata Adam: wahai Tuhanku, apakah ini? Allah SWT menjawab: wahai Adam, ini adalah Tasbih Muhammad Al-Arabi, Sayyid Al-Awwalin Wa Al-Akhirin, berbahagialah bagi siapa yang mengikuti dan patuh kepadanya, dan akan celaka bagi siapa yang menentangnya, peganglah janji-ku ini wahai Adam, dan tidaklah aku pindahkan nur itu kecuali ke sulbi-sulbi lelaki yang suci dan rahim para wanita yang menjaga kehormatan dan kesucian dirinya.

Kemudian Adam berkata: wahai Tuhanku, telah engkau tambahkan kepadaku kemuliaan, cahaya, keindahan, kehormatan dengan sebab kelahiran Nur Muhammad ini. Ketika Adam ingin mendatangi Siti Hawa, beliau memerintahkan Hawa untuk mensucikan diri, dan berkata kepadanya: sungguh Allah telah memberi rezki dan keistimewaan kepadamu dengan nur ini, karena nur ini merupakan titipan dan janji Allah SWT.

Adapun kalimat yang berbunyi ;  “dikaruniai pengertian dan ilmuku”, pada hadits yang diriwayatkan oleh Thabrani dalam kitabnya Al-Kabir tersebut, sesungguhnya adalah ilmu yang dimiliki oleh keturunan Rasulullah SAW pada hakikatnya adalah Ilmu Rasulullah. Menurut Ibnu Taimiyah, Allah SWT menganugerahkan ilmu secara khusus bagi keturunan Rasulullah SAW, yakni ilmu yang tidak diberikan kepada manusia selain mereka. Sehingga tidak seorangpun yang lebih Alim dari mereka tentang Nama-Nama Allah, Sifat-Sifat, Perbuatan-Perbuatan, hukum-hukum, pahala dan siksa, syariat, peristiwa-peristiwa yang diridhai dan dimurkai oleh-Nya, para malaikat dan seluruh makhluq-nya. Maha Suci Allah yang telah menganugerahkan ilmu kepada mereka baik yang terdahulu maupun yang datang kemudian.

Para keturunan Rasulullah SAW memiliki sesuatu yang lebih dibanding orang lain, yaitu hubungan (nasab dan keilmuan) dengan Nabi SAW. Diantara mereka ada yang Alim ibnu Alim ibnu Alim hingga Nabi SAW, ada yang Wali ibnu Wali ibnu Wali hingga Nabi SAW, ada yang saleh ibnu saleh ibnu saleh hingga Nabi SAW. Di dunia ini, di manakah dapat ditemukan hal seperti ini?

Ibnu Hajar dalam Al-Shawaiq Al-Muhriqah mengatakan bahwa: 'mereka (keturunan Rasulullah SAW) adalah gudang-gudang ilmu Islam dan hukum-hukum syarak. Kalau saja para keturunan Rasulullah SAW yang jahil akan ilmu agama berusaha untuk belajar, niscaya mereka tidak memerlukan waktu yang lama untuk menjadi alim.

Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi berkata: 'kita Ahlul-Bait, jika bertawajjuh untuk menuntut asrar, akan berhasil dengan waktu singkat. Yang menyebabkan kita tertinggal adalah karena kita menangguhkan diri kita sendiri, barang siapa menangguhkan dirinya, ia akan hilang tersesat. Semoga Allah membimbing kita ke jalan para salaf kita yang saleh dan mengembalikan barakah dan asrar mereka kepada kita.

6. KEKHUSUSAN DAN KEISTIMEWAAN KELUARGA RASULULLAH SAW.
Banyak kitab yang menulis tentang kekhususan dan keistimewaan keluarga Rasulullah SAW, diantara kekhususan dan keistimewaan itu adalah:
1) Diharamkan sedekah atas mereka, karena sedekah itu termasuk kotoran manusia. Sebagai gantinya mereka mendapatkan 1/5 dari 1/5 harta fai dan ghanimah/rampasan perang. Untuk lebih jelasnya akan diuraikan pada bagian lain.

2) Dituntut untuk menunjukkan sikap memuliakan, menghormati, mengutamakan serta memaafkan kesalahan-kesalahan mereka yang didasari ketulusan. Dan harus diiktikadkan bahwa orang-orang fasik di antara mereka akan mendapat hidayah dari Allah SWT. Semua itu adalah karena kekerabatan mereka dengan Rasulullah SAW, sebagaimana yang ditunjukkan oleh sebagian hadits, dan ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat Al-Ahzab ayat 33, yang berbunyi:
إِنَّمَا يُرِيْدُ الله لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِجْسَ أَهْلَ البَيْتِ وَ يُطَهِّرَ كُمْ تَطْهِيْرًا
"sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan kotoran (rijs) dari kalian hai Ahli Al-Bait, dan hendak mensucikan kalian sesuci-sucinya".

Dalam bukunya Al-Futuhat Al-Makiyah bab ke 29, Ibnu Arabi membicarakan keagungan Nabi Muhammad SAW dan ia memberikan pendapat bahwa baginda SAW dan keluarganya telah disucikan sesuci-sucinya dan telah dibersihkan dari al-rijs, yaitu semua perkara yang dapat mencemarkan kemuliaan mereka.

Abu Ja'far Muhammad ibnu Jarir Al-Thabari, dalam buku tafsir Al-Thabari mengatakan bahwa sesungguhnya Allah berkehendak untuk menghilangkan as-suuk (kejelekan) dan al-fahsya (kekejian) dari mereka dan mensucikan mereka sesuci-sucinya dari kotoran yang timbul akibat maksiat.

Dalam kitabnya Al-Shawaiq al-Muhriqah, Ibnu Hajar Al-Haitsami menjelaskan bahwa ayat itu adalah sumber keutamaan keluarga Nabi SAW, sebab ia memuat beberapa keindahan, keutamaan mereka dan perhatian Allah SWT atas mereka. Ayat tersebut diawali dengan kata إنَّمَا (hanya) yang berfungsi sebagai pembatas kehendak Allah untuk menghilangkan Al-Rijs (yang berarti dosa atau ragu terhadap apa yang seharusnya diyakini) hanya dari mereka saja dan mensucikan mereka sesuci-sucinya dari semua akhlaq dan tingkah laku yang tercela.

Diriwayatkan dan disahihkan oleh Al-Hakim, Rasulullah SAW bersabda:
يَا بَنِى عَبْد المُطَلِب , إِنِّ سَاَلْتُ الله لَكُمْ ثَلاَثًا: أن يثبت قائمكم و أن يهدى ضالكم وأن يعلم جاهلكم
"hai Bani Abdul Muthalib, sesungguhnya aku telah memohon kepada Allah untuk kalian 3 perkara:
- Agar Allah menetapkan orang-orang yang istiqamah di antara kalian.
- Agar Allah menunjukkan orang-orang yang sesat di antara kalian
- Agar Allah mengajarkan orang-orang yang bodoh di antara kalian".

Para Ulama telah menjelaskan bahwa sebaiknya penduduk negeri Nabi SAW itu tetap dimuliakan sekalipun nampak bidaah atau yang serupa di kalangan mereka, demi menjaga kehormatan ketetanggaan dengan Nabi. Maka betapa pula dengan keturunan Nabi SAW yang merupakan darah daging baginda, walaupun di antara mereka dan beliau itu ada beberapa perantara (keturunan).

Telah diriwayatkan tentang firman Allah: وكان أبوهما صالح (sedangkan ayahnya adalah seorang yang saleh), bahwa kata 'ayah' yang dimaksud dalam ayat itu adalah: yang karena memuliakannya sehingga harta benda anak yatim itu terpelihara, adalah moyang ketujuh atau kesembilan dari anak yatim tersebut.

Sayugianya orang yang fasik di antara keluarga Nabi SAW itu sekalipun perbuatannya itu dibenci, namun mereka tetap harus dihormati karena adanya ikatan kekerabatan mereka dengan Rasulullah SAW. Telah disebutkan dalam beberapa hadits yang bersumber dari banyak jalan bahwa mereka itu diharamkan dari api neraka, seperti yang diriwayatkan oleh Al-Bazzar, Abu Ya'la, Al-Uqaili, Al-Thabrani dan Ibnu Syahin dalam al-sunnah dari Ibnu Masuud berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ فَاطِمَةَ اَحْصَنَتْ فَرْجَهَا , فَحَرَّمَهَا الله وَ ذُرِّيَّتَهَا عَلَى النَارِ
"sesungguhnya Fathimah telah menjaga kesuciannya, oleh karena itu Allah mengharamkan dia dan keturunannya dari (sentuhan) api neraka".

Ibnu Jarir meriwayatkan dalam tafsirnya dari Ibnu Abbas mengenai firman Allah SWt:
وَلَسَوْفَ يُعْطِيْكَ رَبُّكَ فَتَرْضَى. قَالَ: مِنْ رِضَى مُحَمَّدٍ اَنْ لاَ يُدْخِلَ اَحَدٌ مِنْ اَهْلِ بَيْتِهِ النَّارَ
"dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas". Ia berkata: di antara kepuasan Muhammad SAW adalah agar tidak seorangpun dari keluarganya (keturunannya) yang masuk ke dalam api neraka".

Dari Imran bin Hushain, ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
سَأَلْتُ رَبِّي اَنْ لاَ يُدْخِلَ النَّارَ اَحَدًا مِنْ اَهْلِ بَيْتِي فَأَعْطَانِيْهَا
"aku telah memohon kepada tuhanku supaya tidak memasukkan seorangpun dari Ahlul Baitku (keturunanku) ke dalam neraka, dan dia (Allah SWT) mengabulkan permohonanku".

Diriwayatkan dari Ibnu Masuud bahwa Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ فَاطِمَةَ حَصَنَتْ فَرْجَهَا ,وَاِنَّ الله اَدْخَلَهَاوَذُرِّيَّتَهَا الجَنَّةَ
"sesungguhnya Fathimah telah menjaga kesuciannya, karena itu Allah SWT akan memasukkannya bersama keturunannya ke dalam surga".

Pernah Rasulullah SAW berkata dalam khutbahnya: 'mengapa orang mengatakan bahwa kekerabatanku tidak berguna di hari kiamat?! Sesungguhnya kekerabatanku itu tersambung baik di dunia maupun di akhirat'.

Umar bin Khattab telah melamar Umi Kalsum untuk dirinya dari ayahnya Ali bin Abi Thalib. Ketika itu Ali menjawab bahwa puterinya itu masih terlalu kecil dan juga sudah dipersiapkan buat calon isteri putra saudaranya, Ja'far. Namun Umar berkeras hendak menyuntingnya juga, ia naik ke atas mimbar dan berkata: 'saudara-saudara, demi Allah, tidak ada yang mendorongku memaksa Ali dalam perkara putrinya itu, melainkan bahwa aku pernah mendengar Nabi SAW bersabda: semua sebab, nasab dan periparan terputus pada hari kiamat kelak, kecuali sababku, nasabku dan periparanku!. Dan akhirnya Ali menikahkan putrinya itu dengan Umar. Dari perkawinan tersebut, lahir seorang putra yang diberi nama Zaid, dan meninggal setelah dewasa.

Semua hadits yang menyebutkan manfaat kekerabatan dengan Rasulullah di atas tidaklah menafikan hadis-hadis lain yang menganjurkan Ahlul Bait beliau agar takut dan taat kepada Allah SWT, dan bahwa yang dekat dengan beliau pada hari kiamat kelak hanyalah dengan takwa dan bahwa beliau tidak berdaya apa-apa bagi mereka dari kekuasaan Allah SWT. Seperti yang disebutkan dalam hadits sahih, ketika turun firman Allah SWT dalam surat Sl-Syuura ayat 214:
وَأَنْذِرْ عَشِيْرَتَكَ الأَقْرَبِيْنَ
"dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat"

Maka baginda mengundang para kerabatnya, setelah berkumpul beliau mengatakan kepada mereka supaya mereka menolong diri mereka masing-masing dari ancaman api neraka, hingga akhirnya beliau berkata: 'wahai Fathimah binti Muhammad, wahai Shafiyah binti Abdul Muthalib, wahai Bani Abdul Muthalib, aku tidak memiliki apa-apa untuk kalian terhadap kekuasaan Allah, hanya saja kalian mempunyai hak kekerabatan yang mana akan aku sambungkan dengannya”.

Selanjutnya seperti hadits yang diriwayatkan oleh Abu Syaikh, Rasulullah SAW bersabda: 'wahai Bani Hasyim, janganlah sampai orang-orang datang di hari kiamat kelak dengan membawa amal akhirat di bahu mereka, sedangkan kalian datang sambil memikul dunia di bahu kalian. Kalian tidaklah berdaya apa-apa terhadap kekuasaan Allah.

Diriwayatkan oleh Al-Thabari bahwa Nabi SAW tidaklah memiliki upaya apa-apa, baik kemanfaatan maupun kemudharatan, tetapi Allah SWT memberikan kepadanya kemanfaatan untuk sanak kerabatnya, bahkan untuk seluruh umatnya, yaitu dengan syafaat umum dan khusus. Jadi, baginda tidak mempunyai hak apa-apa kecuali apa yang sudah dan akan diberikan Allah SWT kepadanya, seperti ucapan baginda saw: 'tetapi kamu mempunyai ikatan kekerabatan yang akan aku hubungkan dengannya'. Demikian pula dengan makna ucapan beliau: 'aku tidaklah berdaya apa-apa bagi kalian di hadapan kekuasaan Allah, selain dari kemurahan Allah yang diberikan kepadaku (seperti syafaat atau maghfirah dan lainnya)'.

Beliau mengucapkan kata-kata itu kepada sanak kerabatnya adalah untuk memelihara maqam takhwif dan mendorong agar berbuat amal kebajikan serta menginginkan mereka menjadi manusia-manusia utama dan paling banyak bagiannya dalam hal ketaqwaan dan ketakutan kepada Allah SWT. Kemudian beliau memberi ketenangan dengan mengingatkan mereka akan hak kekerabatan mereka dengan Rasulullah SAW.

3) Mereka adalah manusia yang mulia dari segi nasab dan manusia yang paling utama dari segi asal-usul. Yusuf bin Ismail al-Nabhani mengatakan: 'karena kemuliaan nasab dan asal-usul mereka, maka tidak ada satupun manusia yang sekufu (sepadan) untuk menikah dengan mereka, dan hal ini telah banyak dijelaskan oleh para ulama pemimpin umat. Misalnyanya Jalaludin aS-Sayuthi dalam kitab Khosois-nya mengatakan bahwa tidak ada satu manusia pun yang sekufu untuk menikah dengan keluarga Rasulullah SAW.



6. SIAPA KELUARGA (آل) MUHAMMAD SAW?
Berkata Ibnu Hajar Al-Asqolani dalam kitabnya Fath Al-Bari, dan Al-Syaukani dalam kitabnya Nail-Al-Authar mengenai makna keluarga (آل ) Muhammad SAW. Para ulama berbeda pendapat mengenai makna keluarga (آل ) Muhammad SAW, sebagai berikut:

Pendapat Imam Syafii, Ahmad, Abu Tsaur, Mujahid, Qatadah, Ibnu Juraij dan Muslim bin Kholid: ‘sesungguhnya yang dimaksud dengan (آل ) Muhammad SAW adalah Bani Hasyim dan Bani Muthalib. Hal itu dikarenakan Bani Mutholib dan Bani Hasyim bersyarikat dalam bagian Dzawil Qurba, dan Nabi SAW tidak memberi bagian tersebut kepada siapapun dari Suku Quraisy, selain kepada mereka. Pemberian itu adalah sebagai ganti, karena mereka diharamkan untuk menerima sedekah.

Diriwayatkan oleh Bukhari dari Jubair bin Math'am:
قال: مشيت انا و عثمان بن عفان الى النبي صلى الله عليه وسلم فقلنا: يا رسول الله أعطيت بني المطلب من حمس خيبر وتركتنا ونحن وهم بمنزلة واحدة !فقال رسول الله عليه وسلم انما بنو المطلب و بنو هاشم شيئ واحد
artinya: "saya berjalan bersama Usman bin Affan ke tempat Nabi SAW, lalu kami berkata ‘wahai Rasulullah SAW, engkau telah memberi Bani Mutholib 1/5 bagian dari harta rampasan khaibar dan engkau tinggalkan kami, padahal kami dan mereka sama. Lalu Rasulullah bersabda: Bani Mutholib dan Bani Hasyim adalah satu."


Pendapat abu hanifah, Malik dan Hadawiyah: mereka adalah Bani hasyim saja.
Dan yang dimaksud dengan Bani Hasyim adalah keluarga Ali, keluarga Aqil, keluarga Ja'far, keluarga Abbas dan keluarga Harits. Keluarga Abu Lahab tidak termasuk didalamnya, hal tersebut disebabkan tidak ada satupun keluarga Abu Lahab yang beragama islam pada masa Rasulullah SAW hidup. Akan tetapi dalam kitab Jami' al-Ushul disebutkan bahwasanya anak Abu Lahab yang bernama Utbah dan Mu'tab masuk Islam ketika penaklukan kota Makkah, mereka meninggal dalam perang Hunain dan Thaif.